Konflik Terbuka Pangeran Diponegoro dengan Pejabat Belanda dan Danurejo Akibat Pemasangan Patok Tanah
Konflik Terbuka Pangeran Diponegoro dengan Pejabat Belanda dan Danurejo Akibat Pemasangan Patok Tanah
Tindakan para Pejabat Hindia Belanda membuat Pangeran Diponegoro sangat marah. Residen Belanda Smissaert kerap berselisih dengan Pangeran Diponegoro, termasuk dalam perilaku dan masalah moral saat berhubungan dengan putri-putri keraton serta dalam pemasangan patok tanah.
Pada suatu ketika, Smissaert dan Danurejo memerintahkan pemasangan patok-patok sebagai tanda pembuatan jalan baru yang sengaja melintasi tanah milik Diponegoro di Tegalrejo. Pangeran Diponegoro kemudian memerintahkan anak buahnya untuk mencabuti patok-patok tersebut.
Baca juga: Siasat Pasukan Pangeran Diponegoro Rampok Logistik Belanda di Perang Jawa
Dalam Babad Diponegoro, sang pangeran dengan tegas menuliskan ingatannya, “Sesudah salat ashar saya keluar rumah melihat ada gerombolan orang. Saya bertanya ke orang saya Ki Soban,” ungkap Pangeran Diponegoro dalam catatannya.
Ki Soban, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro, menjawab bahwa orang-orang tersebut adalah utusan Patih Danurejo yang akan membuat jalan. Pangeran Diponegoro menjadi sangat marah melihat patok-patok yang dipasang Danurejo melintasi tanah milik keluarganya.
“Saya panggil pembantu yang lain, Mangunharjo. Apa yang terjadi Mangunharjo? Kenapa tidak memberi tahu saya? Cabut semua patok itu!” perintah Pangeran Diponegoro dalam catatannya seperti dikutip dari buku “Sejarah Nasional Indonesia IV: Kemunculan Penjajahan di Indonesia”.
