Berita

China Meningkatkan Akuisisi Tambang Global di Tengah Sanksi AS, Tertinggi Sejak 2013

China Meningkatkan Akuisisi Tambang Global di Tengah Sanksi AS, Tertinggi Sejak 2013

JAKARTA – Perusahaan-perusahaan asal China telah melakukan pembelian tambang di luar negeri dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan lebih dari satu dekade terakhir, bertujuan untuk mengamankan bahan baku penting di tengah pembatasan investasi oleh negara-negara Barat. Berdasarkan laporan, pada tahun sebelumnya terdapat 10 kesepakatan yang masing-masing bernilai lebih dari USD100 juta.

Jumlah ini adalah yang tertinggi sejak 2013, menurut analisis data dari S&P dan Mergermarket. Dilaporkan bahwa Beijing sedang berusaha untuk mengamankan pasokan mineral penting, seiring dengan meningkatnya ketegangan dalam perang dagang dengan negara-negara Barat.

Kenaikan jumlah transaksi tambang ini sebagian mencerminkan upaya China untuk mendahului situasi geopolitik yang memburuk, di mana mereka semakin dipandang tidak diinginkan sebagai investor di negara-negara seperti Kanada dan Amerika Serikat, menurut para analis dan investor.

Kesepakatan besar yang dilakukan China termasuk tambang emas di Kazakhstan, Ghana, dan Pantai Gading. Selain itu, terdapat tambang tembaga di Zambia, tambang tembaga-emas di Brasil, serta kepemilikan 50% dalam proyek tanah jarang di Tanzania.

China adalah pemain utama dalam pemurnian elemen tanah jarang, bertanggung jawab atas 90% kapasitas pengolahan global, dan memiliki cadangan elemen kritis terbesar di dunia. Beijing telah menempatkan keamanan mineral sebagai prioritas strategis nasional.

Tindakan China ini sejalan dengan meningkatnya permintaan global untuk lithium, kobalt, dan nikel, seiring dengan pertumbuhan energi bersih dan manufaktur teknologi tinggi.