Kakbah dan Tempat-tempat Suci di Makkah
Kakbah dan Tempat-tempat Suci di Makkah
Ketika melaksanakan ibadah haji, lokasi yang paling dinantikan di Tanah Suci adalah Kakbah. Apa dan bagaimana sebenarnya Kakbah itu? Serta, tempat-tempat suci apa saja yang ada dalam proses pelaksanaan ibadah haji akan dibahas dalam artikel ini.
1. Kakbah
Allah SWT berfirman:
‘Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia adalah Baitullah yang ada di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) niscaya aman. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.’ [QS. Ali ‘Imran: 96-97]
Kemudian Allah berfirman:
‘Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Wahai Tuhan kami, terimalah (amal) kami. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.’ [QS. Al-Baqarah: 127]
Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, Allah menceritakan tentang hamba-Nya, rasul-Nya, pilihan-Nya, sekaligus kekasih-Nya, yakni Ibrahim, yang membangun rumah tua (Baitullah) sebagai masjid pertama yang dibangun untuk manusia secara umum, tempat mereka menyembah Allah. Allah menunjukkan kepada Nabi Ibrahim alaihissalam tempat Baitullah. Yakni, membimbingnya ke lokasi yang sudah ditentukan sejak penciptaan langit dan bumi.
Dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Makkah telah disucikan oleh Allah pada hari penciptaan langit dan bumi. Oleh karena itu, kesucian Makkah tetap ada hingga hari Kiamat. Tidak ada hadis sahih yang menyatakan bahwa Baitullah sudah dibangun sebelum zaman Nabi Ibrahim.
Dalil yang menyatakan bahwa Baitullah sudah ada sebelum Nabi Ibrahim didasarkan pada firman Allah: ‘Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah.’ [QS. Al-Hajj: 26], yang menurut Ibnu Katsir tidak kuat dan tidak jelas. Tempat Baitullah sudah ditetapkan dalam ilmu Allah dan diagungkan oleh para nabi sejak zaman Nabi Adam hingga Nabi Ibrahim.
Ibnu Katsir menyatakan bahwa kisah-kisah Israiliyat (riwayat dari Ahlul Kitab) tidak bisa dipastikan kebenarannya dan tidak dapat dijadikan hujjah.
Nabi Ibrahim alaihissalam membangun masjid paling mulia di lokasi paling mulia, di lembah tanpa tanaman. Ia berdoa agar keluarganya diberkahi dengan rezeki buah-buahan, meskipun berada di tempat tandus dengan sedikit air dan tanpa tumbuhan. Ia juga memohon agar tempat itu menjadi lokasi yang suci dan aman, serta meminta kepada Allah agar mengutus rasul dari kalangan mereka sendiri dengan bahasa mereka.
