Putin Klaim Sistem Keuangan Barat Sudah Kuno, BRICS Tawarkan Solusi Baru
Putin Klaim Sistem Keuangan Barat Sudah Kuno, BRICS Tawarkan Solusi Baru
JAKARTA – Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyatakan bahwa sistem keuangan global yang selama ini didominasi oleh negara-negara Barat sudah usang dan tidak lagi relevan. Hal ini disampaikannya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS yang berlangsung pada 6 Juli lalu, di mana terdapat dorongan kuat dari negara-negara anggota BRICS untuk menciptakan sistem keuangan alternatif yang baru.
Putin menggambarkan perkembangan sistem keuangan BRICS sebagai respons strategis terhadap tekanan ekonomi global, khususnya sanksi dari Barat yang selama ini menekan Rusia. Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada tahun 2022, Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) telah menjatuhkan berbagai sanksi ekonomi besar-besaran, yang menargetkan sektor keuangan, energi, dan pertahanan Rusia.
Sebagai tanggapan, Rusia memperkuat hubungan dengan negara-negara BRICS dalam upaya membangun sistem keuangan yang terlepas dari dominasi dolar AS. Inisiatif ini mencakup kebijakan dedolarisasi, pengembangan sistem pembayaran lintas batas, serta wacana pembentukan mata uang bersama.
Negara-negara BRICS, terutama India dan China, telah mulai mengimplementasikan kebijakan dedolarisasi dengan lebih banyak menggunakan mata uang lokal dalam transaksi bilateral. Bahkan, India dilaporkan sempat melanggar sanksi internasional dengan mengekspor chip komputer senilai ratusan juta dolar ke Rusia melalui jalur tidak resmi di Malaysia.
