Pemimpin Iran Nyatakan Kesediaan Berkonflik Kembali dengan Israel, Berikut 4 Penyebabnya
Pemimpin Iran Nyatakan Kesediaan Berkonflik Kembali dengan Israel, Berikut 4 Penyebabnya
TEHERAN – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan kesiapan negaranya menghadapi segala bentuk konflik yang mungkin dilancarkan Israel. Ia juga menyatakan ketidakoptimisannya mengenai gencatan senjata antara kedua negara, sambil menegaskan bahwa Teheran akan melanjutkan program nuklirnya untuk tujuan damai.
Pezeshkian memberikan pernyataan ini dalam wawancara eksklusif dengan BERITA88 yang disiarkan pada hari Rabu. Ini adalah wawancara televisi pertamanya sejak berakhirnya konflik 12 hari dengan Israel bulan lalu, di mana Amerika Serikat turut campur mendukung Israel dengan menyerang fasilitas nuklir Iran.
Pernyataan ini muncul ketika negara-negara Barat mencari solusi atas ambisi nuklir Iran yang berlanjut setelah konflik tersebut, di tengah laporan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir tidak seberat klaim Washington.
Pemimpin Iran Nyatakan Kesediaan Berkonflik Kembali dengan Israel, Berikut 4 Penyebabnya
1. Iran Tak Bergantung pada Gencatan Senjata
“Kami sepenuhnya siap menghadapi langkah militer baru dari Israel, dan pasukan bersenjata kami siap menyerang jauh ke dalam Israel lagi,” ungkap Pezeshkian kepada BERITA88.
Iran tidak bergantung pada gencatan senjata yang mengakhiri perang 12 hari untuk bertahan, ujarnya. “Kami tidak terlalu optimis mengenai hal itu,” kata Pezeshkian. “Oleh karena itu, kami telah mempersiapkan diri untuk setiap skenario dan potensi respons. Israel telah melukai kami, dan kami juga telah melukainya. Israel telah memberikan pukulan keras kepada kami, dan kami telah membalasnya dengan keras, meskipun Israel menyembunyikan kerugiannya.”
Ia menambahkan bahwa serangan Israel, yang menewaskan tokoh-tokoh militer dan ilmuwan nuklir ternama serta merusak fasilitas nuklir, berupaya untuk “menghancurkan” hierarki Iran, “tetapi upaya tersebut gagal total”.
Lebih dari 900 orang tewas di Iran, sebagian besar adalah warga sipil, dan setidaknya 28 orang tewas di Israel sebelum gencatan senjata diberlakukan pada 24 Juni.
