Berita

Dampak Tarif AS, Produksi di Beberapa Pabrik China Terhenti

Dampak Tarif AS, Produksi di Beberapa Pabrik China Terhenti

BEIJING – Berdasarkan laporan dari berbagai perusahaan dan analis, beberapa produsen di China mulai menghentikan produksi mereka dan berupaya mencari pasar alternatif akibat dampak tarif yang diberlakukan oleh AS. Kehilangan pesanan dari pasar Amerika juga mengakibatkan gangguan pada lapangan kerja.

“Saya mengetahui beberapa pabrik yang telah meminta setengah dari tenaga kerjanya untuk tidak bekerja selama beberapa minggu dan menghentikan sebagian besar operasinya,” ungkap Cameron Johnson, mitra senior di Tidalwave Solutions yang berpusat di Shanghai, seperti dilaporkan oleh BERITA88. Menurutnya, pabrik-pabrik yang memproduksi mainan, peralatan olahraga, dan barang-barang murah seperti yang dijual di Dollar Store adalah yang paling terdampak saat ini. “Meskipun skala dampaknya belum besar, situasi ini telah terjadi di pusat-pusat ekspor utama seperti Yiwu dan Dongguan, dan ada kekhawatiran bahwa kondisinya akan memburuk,” tambah Johnson. “Ada harapan bahwa tarif akan dikurangi sehingga pesanan dapat dilanjutkan, namun untuk sementara perusahaan-perusahaan terpaksa merumahkan karyawan dan menghentikan sebagian produksinya.”

Menurut perkiraan Goldman Sachs, sekitar 10 hingga 20 juta pekerja di China terlibat dalam ekspor ke AS. Tahun lalu, jumlah pekerja resmi di kota-kota China mencapai 473,45 juta. Dalam waktu yang singkat bulan ini, AS menambahkan lebih dari 100% tarif pada barang-barang China, yang dibalas oleh Beijing dengan bea masuk timbal balik. Meskipun Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis menyatakan bahwa pembicaraan perdagangan dengan Beijing sedang berlangsung, pihak China membantah adanya negosiasi tersebut.

Dampak penggandaan tarif ini “jauh lebih besar” dibandingkan pandemi Covid-19, menurut Ash Monga, pendiri dan CEO Imex Sourcing Services, sebuah perusahaan manajemen rantai pasokan yang berpusat di Guangzhou. Ia menekankan bahwa bagi bisnis kecil dengan sumber daya terbatas, kenaikan tarif yang mendadak dapat membuat mereka menutup usaha. Untuk mengatasi situasi ini, dia meluncurkan situs “Bantuan Tarif” untuk membantu bisnis kecil menemukan pemasok di luar China.

Gangguan bisnis ini juga memaksa eksportir China untuk mencoba strategi penjualan baru. Woodswool, produsen pakaian atletik yang berlokasi di Ningbo, dekat Shanghai, beralih menjual produknya secara daring di China melalui siaran langsung. Dalam waktu seminggu setelah peluncuran kanal penjualannya, perusahaan menerima lebih dari 30 pesanan dengan nilai barang dagangan kotor lebih dari 5.000 yuan (sekitar USD690).

Langkah ini merupakan upaya kecil untuk menyelamatkan bisnis yang hilang. “Semua pesanan dari AS telah dibatalkan,” ujar Li Yan, manajer pabrik dan direktur merek Woodswool. Lebih dari separuh produksi mereka sebelumnya dikirim ke AS, dan beberapa kapasitas akan menganggur selama dua hingga tiga bulan hingga perusahaan mampu membangun pasar baru, jelas Li. Dia menambahkan bahwa perusahaan tersebut telah menjual produknya ke pelanggan di Eropa, Australia, dan AS selama lebih dari 20 tahun.