politik

Penginapan di Jepang Meminta Wisatawan Israel Menandatangani Pernyataan Terkait Kejahatan Perang

Penginapan di Jepang Meminta Wisatawan Israel Menandatangani Pernyataan Terkait Kejahatan Perang

TOKYO – Sebuah penginapan di Kyoto, Jepang, meminta seorang wisatawan asal Israel untuk menandatangani pernyataan bahwa dia tidak terlibat dalam kejahatan perang selama masa dinas militernya sebagai syarat untuk check in.

Menurut laporan BERITA88, turis tersebut menjelaskan bahwa kejadian ini berlangsung setelah dia memperlihatkan paspor Israelnya di resepsionis.

“Petugas memberikan formulir ini kepada saya dan menyatakan bahwa tanpa tanda tangan saya, check in tidak akan diizinkan,” ujar pria tersebut, yang pernah bertugas sebagai tenaga medis tempur di cadangan Angkatan Laut.

Turis tersebut menjelaskan bahwa formulir yang diminta mengharuskannya menyatakan bahwa dia tidak melakukan kejahatan perang, termasuk pemerkosaan, pembunuhan terhadap orang yang sudah menyerah, atau penyerangan terhadap warga sipil.

Awalnya, turis Israel ini menolak menandatangani formulir tersebut, namun akhirnya bersedia setelah petugas penginapan menjelaskan bahwa semua tamu dari Israel dan Rusia harus melakukannya.

“Saya tidak pernah terlibat dalam kejahatan perang apa pun yang melanggar hukum internasional dan hukum kemanusiaan, termasuk tetapi tidak terbatas pada serangan terhadap warga sipil (anak-anak, wanita), pembunuhan atau penganiayaan terhadap mereka yang menyerah atau ditawan sebagai tawanan perang, penyiksaan atau perlakuan tidak manusiawi, kekerasan seksual, pemindahan paksa atau penjarahan, dan tindakan lain yang termasuk dalam lingkup Pasal 8 Statuta Roma tentang Mahkamah Pidana Internasional (ICC),” demikian bunyi pernyataan pada formulir tersebut.

“Saya tidak pernah merencanakan, memerintahkan, membantu, mendukung, atau menghasut kejahatan perang, dan saya juga tidak pernah berpartisipasi dalam tindakan tersebut. Saya berjanji untuk terus mematuhi hukum internasional dan hukum kemanusiaan dan tidak akan pernah terlibat dalam kejahatan perang dalam bentuk apa pun,” lanjut dokumen tersebut.

Pasca kejadian tersebut, Duta Besar Israel untuk Jepang, Gilad Cohen, mengirimkan surat kepada Gubernur Kyoto, Takatoshi Nishiwaki, menyatakan bahwa tindakan tersebut tidak dapat diterima.

“Tindakan diskriminatif ini, yang hanya berdasarkan kebangsaan, menyebabkan tamu tersebut mengalami tekanan emosional dan ketidaknyamanan yang signifikan,” tulis duta besar Israel tersebut.