Menteri Keuangan AS: China Berisiko Kehilangan 10 Juta Lapangan Kerja dengan Cepat
Menteri Keuangan AS: China Berisiko Kehilangan 10 Juta Lapangan Kerja dengan Cepat
JAKARTA – Scott Bessent, Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), menyampaikan bahwa China memiliki kewajiban untuk menurunkan tarif jika ingin menghindari hilangnya jutaan lapangan kerja. Dia menegaskan bahwa perang dagang antara kedua kekuatan ekonomi terbesar dunia ini berdampak besar pada sektor ketenagakerjaan.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Bessent mengungkapkan, “Jika AS terus mempertahankan tarif pada tingkat 145%, China bisa dengan cepat kehilangan 10 juta pekerjaan.”
Dia juga menambahkan bahwa meskipun tarif AS sedikit diturunkan, China masih mungkin kehilangan 5 juta pekerjaan. “Ingatlah bahwa kita adalah negara dengan defisit,” kata Bessent, Menkeu AS.
Bessent menjelaskan bahwa China menjual produk hampir lima kali lebih banyak kepada AS dibandingkan sebaliknya. “Tanggung jawab ada pada mereka untuk menghapus tarif-tarif ini. Ini tidak dapat bertahan bagi mereka,” jelasnya.
Namun, Bessent belum memberikan klarifikasi apakah ada pembicaraan perdagangan yang sedang berlangsung dengan China. Hal ini menjadi perhatian, terutama ketika China menyangkal adanya negosiasi meskipun Presiden AS Donald Trump menegaskan pembicaraan tersebut sedang berlangsung.
“Saya tidak akan membahas detail tentang siapa yang berbicara dengan siapa, tetapi seperti yang saya katakan, saya percaya bahwa tarif ini tidak dapat dipertahankan bagi China,” ucap Bessent kepada para wartawan.
Di sisi lain, Bessent menyebutkan bahwa AS hampir mencapai kesepakatan dengan India dan melihat kemajuan dalam diskusi dengan Korea serta beberapa pembicaraan penting dengan Jepang.
Di Eropa, Bessent menekankan bahwa pajak digital yang dikenakan pada perusahaan teknologi besar AS perlu diturunkan sebagai bagian dari negosiasi perdagangan.
Minggu ini, Trump dan Gedung Putih berupaya keras untuk meyakinkan pasar bahwa akan ada lebih banyak kepastian dari pemerintah dalam mencapai kesepakatan dengan negara-negara lain.
“Saya pikir ketidakpastian akan berkurang, dan ketika kami mulai mengumumkan kesepakatan, akan ada lebih banyak kepastian,” tambahnya, meskipun dia menambahkan bahwa “kepastian tidak selalu merupakan hal yang baik dalam negosiasi.”


