Pemimpin Toyota: Mobil Listrik Berpotensi Tingkatkan Emisi Karbon
Pemimpin Toyota: Mobil Listrik Berpotensi Tingkatkan Emisi Karbon
TOKYO – Tren kendaraan listrik global terus meningkat setiap tahun. Hal ini juga ditandai dengan munculnya banyak merek mobil listrik dengan harga bersaing dan teknologi canggih.
BERITA88 – Namun, hal ini tidak sepenuhnya berlaku bagi Toyota Motor Corporation yang berfokus pada mobilitas ramah lingkungan dalam berbagai bentuk, bukan hanya mobil listrik. Strategi multi-pathway yang sudah diterapkan sejak awal menjadi bukti komitmennya.
Menurut laporan yang diterima dari BERITA88, Ketua Toyota, Akio Toyoda, menyatakan bahwa perusahaan tetap berkomitmen mengembangkan hybrid, plug-in hybrid, hidrogen, hingga baterai listrik. Ini menunjukkan keseriusan Toyota dalam upaya pengurangan emisi karbon.
Toyoda mengatakan bahwa tantangan utama bagi perusahaannya adalah emisi karbon, dan tujuan utama Toyota adalah mengurangi karbon dioksida. Prinsip ini menjadi dasar dalam penyusunan strategi mereka yang akan terus dijaga.
“Kami telah menjual 27 juta unit mobil hybrid. Dampaknya setara dengan 9 juta mobil listrik di jalan. Namun, jika kami memproduksi 9 juta mobil listrik di Jepang, emisi karbon akan meningkat karena sebagian besar listrik di Jepang masih berasal dari pembangkit tenaga berbahan bakar fosil,” ujar Toyoda.
Toyoda menegaskan bahwa meskipun kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi dari knalpot, proses produksi baterai dan pembangkit listrik tetap menimbulkan emisi. Menurutnya, hanya bergantung pada BEV bukanlah solusi lengkap untuk krisis iklim.
Untuk jangka panjang, Toyota mengadopsi strategi multi-pathway dengan terus mengembangkan berbagai jenis kendaraan ramah lingkungan. Selain hybrid, perusahaan juga mengembangkan kendaraan berbahan bakar hidrogen, plug-in hybrid, dan mesin pembakaran internal menggunakan bahan bakar sintetis.
“Kami tidak hanya mengandalkan satu jenis teknologi. Semua opsi harus dieksplorasi. Fokus kami adalah melawan karbon dioksida,” jelasnya.
Lebih lanjut, Toyoda mengingatkan bahwa peralihan mendadak ke kendaraan listrik murni dapat menimbulkan konsekuensi sosial dan ekonomi. Menurutnya, jika industri otomotif Jepang dipaksa beralih sepenuhnya ke BEV dalam waktu singkat, sekitar 5,5 juta pekerjaan berisiko terdampak.
Sebelumnya, Toyoda memperkirakan bahwa dalam jangka panjang, kendaraan listrik murni hanya akan menyumbang sekitar 30 persen dari total penjualan mobil secara global.
