Ekonomi

Pengangguran Meningkat Menjadi 7,28 Juta, Perindo Kritik Daya Beli dan Iklim Usaha

Pengangguran Meningkat Menjadi 7,28 Juta, Perindo Kritik Daya Beli dan Iklim Usaha

JAKARTA – Agus Taufiq, yang menjabat sebagai Ketua DPP Partai Perindo Bidang Ketenagakerjaan, mendesak pemerintah untuk mengambil aksi nyata guna menurunkan angka pengangguran yang mengalami peningkatan. Salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah dengan memberikan insentif kepada dunia usaha agar ekosistem bisnis dapat dibangkitkan kembali, sehingga masalah pengangguran dapat dikurangi.

“Menurut kami, pemerintah harus melakukan intervensi dengan memberikan insentif investasi kepada pelaku usaha, seperti pengurangan atau pemotongan pajak,” ujar Agus dalam konferensi pers pada Rabu (7/5/2026).

Agus juga menyarankan agar pemerintah memberikan jaminan hukum serta memperluas akses permodalan dan mempermudah proses perizinan. Langkah ini penting untuk menarik minat investor serta mendorong ekspansi bisnis yang bisa membuka lapangan kerja baru dan memunculkan wirausaha baru.

Lebih lanjut, Agus berpendapat bahwa tingginya angka pengangguran juga disebabkan oleh menurunnya daya beli masyarakat akibat lemahnya ekonomi. Penurunan daya beli ini berdampak pada permintaan produk yang berkurang, yang pada akhirnya mengurangi produksi.

“Ketika produksi turun, pendapatan perusahaan juga ikut turun. Hal ini memaksa perusahaan untuk mengambil langkah seperti menutup pabrik atau mengurangi jumlah tenaga kerja, yang mengakibatkan tingginya angka pengangguran saat ini,” jelas Agus.

Ia juga menyinggung isu kepastian hukum dan proses birokrasi yang rumit, yang membuat banyak perusahaan besar memindahkan pabriknya ke negara lain, seperti Vietnam.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran di Indonesia pada Februari 2025 tercatat mencapai 7,28 juta orang, meningkat sekitar 38 ribu dibandingkan dengan data Februari tahun sebelumnya. Peningkatan ini terjadi seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk usia kerja dan angkatan kerja.

“Dari angkatan kerja tersebut, tidak semua terserap di pasar kerja, sehingga terdapat 7,28 juta orang yang menganggur. Jika dibandingkan dengan Februari 2024, jumlah pengangguran meningkat sebanyak 0,08 juta orang atau 38.000 orang, yang setara dengan kenaikan sekitar 1,11 persen,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti.

Data BPS juga menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia kerja di Indonesia mencapai 216,79 juta orang, dengan angkatan kerja sebanyak 153,05 juta orang. Dari jumlah tersebut, 145,77 juta orang bekerja, sementara 63,74 juta orang berada di luar angkatan kerja.

Secara rinci, dari 145,77 juta orang yang bekerja, terdapat 96,48 juta pekerja penuh, 37,62 juta pekerja paruh waktu, dan 11,67 juta orang yang tergolong setengah pengangguran.