Penurunan Aktivitas Sektor Jasa di China di Tengah Tekanan Tarif AS
Aktivitas Sektor Jasa di China Mengalami Penurunan
JAKARTA – Aktivitas layanan dan jasa di BERITA88 menunjukkan pemburukan lebih dari yang diperkirakan pada bulan April, menurut survei dari pihak swasta. Ini menandai indikasi terbaru dari kemunduran ekonomi China yang sudah tertekan oleh tarif dari Amerika Serikat (AS).
Indeks manajer pembelian (PMI) sektor jasa dari Caixin China turun menjadi 50,7—level terendah dalam tujuh bulan—berdasarkan laporan Caixin dan S&P Global pada 6 Mei. Ekonom yang disurvei oleh Bloomberg sebelumnya memperkirakan angka 51,8. Angka di atas 50 menunjukkan adanya ekspansi.
Hasil yang kurang memuaskan ini menambah kekhawatiran bahwa ekonomi China mungkin menghadapi perlambatan yang cepat mulai kuartal kedua, setelah awal tahun yang cukup stabil.
Baca Juga: Dampak Perang Dagang: Canton Fair Sepi, Industri Ekspor China Terguncang
Pengaruh Tarif AS
Dengan PMI resmi yang menunjukkan bahwa aktivitas pabrik sudah terdampak oleh kenaikan tarif AS pada bulan April, kini muncul pertanyaan mengenai kemampuan pembuat kebijakan untuk dengan cepat mendorong konsumsi domestik guna menggantikan kehilangan permintaan ekspor yang diperkirakan.
“Perbaikan pasar masih terbatas di tengah sengketa dagang China-AS,” tulis Wang Zhe, ekonom senior dari Caixin Insight Group, yang dikutip dari The Straits Times, Jumat (9/4/2025).
“Pelaku sektor jasa menyatakan kekhawatiran mereka terhadap dampak tarif AS,” tambahnya.
Sub-indeks yang mengukur ekspektasi terhadap aktivitas masa depan sektor layanan dan jasa turun ke posisi terendah kedua sejak data ini mulai dikumpulkan pada 2005. Angka ini hanya lebih rendah pada Februari 2020, saat pandemi Covid-19 mulai menyebar.
Selain menekan sentimen, tarif AS juga menyebabkan pertumbuhan pesanan bisnis baru menjadi yang paling lambat sejak Desember 2022.
Menandai penurunan permintaan tenaga kerja di China, perusahaan sektor jasa mengurangi jumlah pegawainya untuk bulan kedua berturut-turut pada bulan April karena kekhawatiran terhadap biaya, menurut sub-indeks ketenagakerjaan.
