Berita

Legislator Perindo Salomiel Arnius Puji Tindakan Cepat Pemda Kupang Tangani Abrasi Lahan Bawang

Legislator Perindo Salomiel Arnius Puji Tindakan Cepat Pemda Kupang Tangani Abrasi Lahan Bawang

KUPANGPemerintah Kabupaten Kupang telah mengambil langkah nyata untuk menanggulangi masalah abrasi sungai yang merusak lahan bawang milik petani di Desa Sumlili, Kecamatan Kupang Barat. Tindakan ini merupakan respons cepat atas aspirasi dari anggota DPRD Kabupaten Kupang dari Partai Perindo, Salomiel Arnius Buraen.

Setelah menyampaikan kondisi lapangan kepada Bupati Kupang, Salomiel mengusulkan agar penanganan masalah abrasi menjadi prioritas utama. Akibatnya, pada 5 Mei 2025, tim dari pemerintah daerah bersama beberapa OPD turun ke lapangan untuk meninjau kerusakan yang terjadi.

“Mereka turun karena saya sampaikan ke Bupati untuk menjadi prioritas penanganannya,” ujar anggota Komisi B DPRD Kabupaten Kupang ini, Jumat (9/5/2025).

Abrasi sungai yang terjadi beberapa waktu lalu telah menyebabkan sekitar 10 hektare lahan bawang siap panen milik petani mengalami kerusakan parah. Dari total 60 hektare lahan yang ada, seperenamnya kini tidak dapat dimanfaatkan lagi.

Kondisi ini tidak hanya merugikan petani secara ekonomi, tetapi juga mengancam keberlanjutan pertanian di wilayah yang dikenal sebagai salah satu sentra bawang di Kabupaten Kupang tersebut.

“Saya apresiasi respons cepat pemerintah daerah. Setelah melakukan komunikasi dengan Bupati Kupang, akhirnya Bupati menurunkan tim ke lapangan untuk memastikan kondisi nyata di lapangan dengan memerintahkan beberapa OPD,” katanya.

Legislator yang menempuh pendidikan di SMA Negeri 2 Kupang dan Universitas Kristen Artha Wacana ini menilai, kerusakan lahan pertanian tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja.

“Harapan saya, ini bisa cepat diatasi sehingga abrasi tidak meluas di sepanjang sungai. Karena masyarakat di lokasi tersebut menggantungkan seluruh hidupnya pada lahan-lahan pertanian yang ada,” ujar Salomiel.

Aktivitas penambangan di sekitar lokasi diduga menjadi salah satu penyebab abrasi yang terjadi. Selain merusak ekosistem, kegiatan itu juga menimbulkan kerugian besar bagi warga yang menggantungkan hidup dari hasil bertani.