Tiga Jet Tempur Rafale Jatuh di Pakistan, Saham Dassault Terpuruk
JAKARTA
Saham Dassault Aviation merosot hingga 6% pada Selasa (7/5) setelah klaim dari Angkatan Udara Pakistan yang menyatakan berhasil menembak jatuh tiga jet tempur Rafale milik India di wilayah udara Kashmir. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran di pasar mengenai kemampuan tempur pesawat buatan Prancis tersebut dan memberi dampak negatif pada prospek bisnis pertahanan Dassault.
Pengumuman dari militer Pakistan dilakukan pada Senin (6/5), yang menyatakan penggunaan sistem rudal permukaan-ke-udara HQ-9B buatan China dan jet tempur J-10C dalam serangan tersebut, termasuk terhadap tiga unit Rafale. Meskipun Pemerintah India menyangkal klaim itu, pasar saham bereaksi negatif dengan penurunan saham Dassault dari €327 menjadi €324 dalam satu sesi perdagangan.
Rafale adalah produk andalan ekspor pertahanan Dassault. Pada tahun 2024, perusahaan melaporkan penjualan rekor sebesar €6,2 miliar dengan 90% dari portofolio pesanan berasal dari pasar internasional. Namun, insiden ini menimbulkan keraguan tentang keandalan Rafale dalam pertempuran intensitas tinggi.
“Insiden ini dapat merusak persepsi tentang keunggulan tempur Rafale. Pasar sangat bergantung pada citra, dan satu kegagalan dapat berdampak panjang,” ujar analis Morgan Stanley, Loredana Muharremi kepada BERITA88, Sabtu (10/5).
Di sisi lain, produsen jet tempur J-10C, Chengdu Aircraft Corporation, justru melihat kenaikan saham sebesar 18%. Kinerja baik jet buatan China ini dianggap sebagai keunggulan dalam persaingan industri pertahanan global.
Penurunan saham Dassault terjadi di tengah volatilitas pasar yang tinggi. Volume perdagangan meningkat menjadi 58.388 saham pada 7 Mei, naik dari 57.327 saham tiga hari sebelumnya. Penurunan ini juga berlawanan dengan tren sebelumnya, ketika saham Dassault naik 51% sejak awal 2025, didorong oleh kinerja keuangan yang kuat dan aksi buyback saham pada Maret lalu.
Insiden ini juga dapat mempengaruhi kontrak besar Dassault, termasuk kesepakatan pengadaan 36 Rafale tambahan oleh India senilai USD9,3 miliar. Ketahanan Rafale terhadap rudal modern kini menjadi perhatian dalam dinamika geopolitik kawasan.
Selain tantangan reputasi, Dassault menghadapi kendala produksi. Pabrik baru mereka di Cergy, yang diresmikan April lalu, belum sepenuhnya mampu mengatasi kemacetan rantai pasok, terutama di segmen jet bisnis Falcon yang menyumbang sepertiga pendapatan perusahaan.
Dengan target pengiriman 25 Rafale dan 40 Falcon pada 2025, beban kerja Dassault semakin berat. Para analis menilai bahwa kemampuan Dassault untuk memenuhi target tersebut di tengah ketegangan geopolitik akan menjadi penentu arah saham perusahaan dalam beberapa bulan mendatang. “Kontraktor pertahanan tidak hanya bersaing di pasar, tetapi juga di medan perang persepsi publik,” kata Muharremi.
