Mahatma Gandhi: Revolusioner India yang Damai
Profil Mahatma Gandhi
JAKARTA – Di masa ketika pemberontakan sering identik dengan senjata, peluru, dan kekerasan, Mahatma Gandhi, tokoh revolusioner dari India, hadir sebagai sesuatu yang berbeda.
Ia adalah seorang pemberontak yang tidak pernah menyerukan perang. Ia memimpin perjuangan tanpa pernah mengangkat senjata. Melalui kesunyian, doa, dan disiplin moral, Gandhi mengguncang fondasi kekuasaan Inggris dan mengantar India menuju kemerdekaan.
Profil Mahatma Gandhi
Mohandas Karamchand Gandhi, yang dikenal sebagai Mahatma Gandhi, lahir pada tanggal 2 Oktober 1869 di Porbandar, Gujarat, India. Nama ‘Mahatma’ berasal dari bahasa Sanskerta, di mana ‘Maha’ berarti besar dan ‘Atma’ berarti jiwa, sehingga Mahatma diterjemahkan sebagai ‘Jiwa yang Agung’.
Julukan ini diberikan oleh Rabindranath Tagore pada tahun 1915 sebagai penghormatan atas moralitas dan perjuangan damai Gandhi. Namun, Gandhi sendiri merasa tidak nyaman dengan sebutan Mahatma, menganggap dirinya sebagai orang biasa dan tidak ingin dipuja secara berlebihan.
Gandhi menyelesaikan pendidikan hukumnya di London, tetapi justru menemukan panggilannya di jalan-jalan Afrika Selatan. Di sana, ia mengalami diskriminasi karena warna kulitnya. Insiden ketika ia dipaksa keluar dari kereta kelas satu pada tahun 1893 menjadi titik balik dalam hidupnya.
Gandhi tidak hanya menentang perlakuan tersebut, tetapi mulai mempertanyakan arti keadilan. Dari sinilah muncul konsep ‘satyagraha’ atau ‘kekuatan kebenaran’, yang menjadi senjata utama perjuangannya.
Satyagraha: Perlawanan Tanpa Kekerasan
Setelah kembali ke India pada tahun 1915, Gandhi melihat rakyatnya terjebak dalam kolonialisme. Sebagai gantinya menyerukan perang, ia mendorong rakyat untuk tidak tunduk. Aksi mogok, boikot produk Inggris, dan puasa menjadi strategi utamanya.
Puncaknya terjadi saat Salt March pada tahun 1930, ketika Gandhi berjalan sejauh 385 km ke Dandi untuk membuat garam sendiri, menentang monopoli Inggris terhadap garam. Aksi ini sederhana, simbolik, dan nyaris senyap, tetapi dunia mendengarnya.
Gandhi menolak jabatan dan kekuasaan. Bahkan ketika Kongres Nasional India memintanya untuk mengambil posisi teratas, ia menolak. ‘Kepemimpinan bukanlah jabatan,’ katanya semasa hidupnya.
