IDI Mendorong Menkes untuk Tingkatkan Komunikasi Publik Menyusul Komentar Ukuran Celana
IDI Mendorong Menkes untuk Tingkatkan Komunikasi Publik Menyusul Komentar Ukuran Celana
JAKARTA – Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Slamet Budiarto, mengimbau Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin untuk memperbaiki cara komunikasi publik terkait edukasi kesehatan. Hal ini sebagai tanggapan atas pernyataan Menkes mengenai pria dengan ukuran celana di atas 33 yang berisiko lebih cepat berpulang.
“Pola komunikasi publik Menkes perlu diperbaiki, karena ini menyangkut masalah kesehatan,” ujar Budi saat dihubungi pada Kamis, 15 Mei 2025.
Budi menyarankan agar Menkes menunjuk juru bicara dari kalangan tenaga medis yang memahami masalah kesehatan. “Sebaiknya, juru bicara Pak Menkes berasal dari tenaga kesehatan, seperti dokter, dokter gigi, perawat, dan lainnya,” jelasnya.
Budi memberikan contoh pernyataan Menkes yang menimbulkan perdebatan di publik terkait kemampuan dokter umum melakukan operasi caesar. “Penjelasannya kurang tepat, sehingga memicu resistensi,” kata Budi.
Sebelumnya, Menkes Budi Gunadi Sadikin menjelaskan alasannya mengenai pernyataan tentang risiko pria dengan ukuran celana jeans di atas 33. Menkes menegaskan bahwa pernyataannya didasarkan pada fakta medis.
Menurutnya, penumpukan lemak akibat pola makan tidak sehat dapat mengakibatkan lemak viseral, yaitu lemak yang mengelilingi organ-organ dalam di perut. Jenis lemak ini lebih berbahaya dibandingkan lemak subkutan yang berada di bawah kulit. “Karena lemak viseral mengeluarkan pro-inflamasi, sitokin, seperti Interleukin 6, sehingga kami harus menurunkan BMI (indeks massa tubuh) di bawah 24,” kata Menkes di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 14 Mei 2025.
Menkes menambahkan bahwa menjaga indeks massa tubuh di bawah 24 adalah ideal untuk mengurangi risiko penyakit serius. Namun, ia menyadari bahwa konsep BMI masih belum familiar atau sulit dipahami oleh sebagian masyarakat.
Oleh karena itu, Menkes memilih menggunakan ukuran celana jeans atau lingkar pinggang sebagai cara komunikasi yang lebih sederhana. Ia berharap pendekatan ini dapat menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan kondisi fisik mereka.
