Sejarah

Hasutan Tumenggung Menyulut Penyerangan Putra Mahkota Mataram ke Keraton

Hasutan Tumenggung Menyulut Penyerangan Putra Mahkota Mataram ke Keraton

SEMARANG – Putra mahkota Kerajaan Mataram dikabarkan pernah melancarkan serangan pemberontakan ke keraton. Konflik ini dipicu oleh perseteruan antara putra mahkota dan adik Sultan Agung yang berkuasa di Mataram kala itu.

Gubernur Jenderal Belanda pada masa itu, Van Goens, menceritakan bagaimana perselisihan itu muncul di keraton. Sang putra mahkota berani memberontak karena terprovokasi oleh Tumenggung Pasisingan dan anaknya, Tumenggung Agrayuda.

Tumenggung Pasisingan dan Tumenggung Agrayuda menghasut Pangeran Alit untuk merebut takhta. Mereka meyakinkan Pangeran Alit bahwa separuh Mataram mendukungnya. Kesempatan untuk merebut kekuasaan sangat menguntungkan saat itu, karena suasana di keraton lama masih sepi.

Semuanya sedang sibuk membangun keraton baru. Dalam Serat Kandha, yang dikutip BERITA88, Sabtu (19/4/2025) dari buku “Disintegrasi Mataram: di Bawah Mangkurat I”, disebutkan bahwa Tumenggung Silingsingan, yang marah karena kecurigaan Raja, mengingatkan adik Raja bahwa Sultan Agung pernah berkata bahwa ia “harus turut menikmati keuntungan dan pendapatan Mataram”.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Tumenggung Silisingan dan koleganya untuk mengajak Pangeran Alit bertindak. Usia putra mahkota yang baru 19 tahun membuatnya secara emosional belum matang. Pangeran Alit pun menyetujui rencana Tumenggung Pasisingan dan koleganya.

Pangeran Alit segera memerintahkan penyerangan terhadap Alun-alun selatan keraton. Sebelum melancarkan serangan, Pangeran Alit sempat menunggu Tumenggung Danupaya, tetapi Tumenggung Pasisingan menolak untuk menunda. Para pendukungnya mendorongnya untuk menyetujui rencana tersebut.

Tumenggung Pasisingan merencanakan serangan dilakukan pada malam harinya, ketika para pekerja paksa sedang pulang. Tumenggung Agrayuda, setelah mendapat perintah dari ayahnya, bersama orang-orang bersenjata harus mulai menyerang dari alun-alun selatan. Namun, Pangeran Purbaya segera menyadari rencana ini dan memberi tahu Raja.