Berita

10 Ciri Tabarruj yang Perlu Dihindari, Kaum Muslimah Harus Tahu!

10 Ciri Tabarruj yang Perlu Dihindari, Kaum Muslimah Harus Tahu!

Ada setidaknya 10 ciri tabarruj yang perlu dihindari terutama oleh kalangan muslimah. Mengapa demikian dan ciri tabarruj apa yang harus dihindari tersebut?

Tabarruj berasal dari bahasa Arab dalam bentuk masdar tabarroja, yang berarti menunjukkan perhiasan atau keindahan. Oleh karena itu, tabarruj dapat diartikan sebagai tindakan menonjolkan perhiasan atau keindahan tersebut. Secara lengkap, tabarruj adalah perilaku menunjukkan kecantikan dan keelokan tubuhnya, sehingga dapat menimbulkan syahwat dari lawan jenis yang bukan mahramnya.

Esensi tabarruj adalah perilaku menonjolkan keindahan dan perhiasannya. Dengan demikian, selain diperuntukkan bagi wanita, tabarruj pria juga berlaku.

Dalam Islam, hukum tabarruj adalah haram berdasarkan Al-Qur’an, sunah Rasulullah SAW, dan kesepakatan para ulama. Seluruh tubuh wanita adalah aurat yang tidak boleh diperlihatkan, termasuk badan, rambut, perhiasan, serta pakaian dalam. Ayat mengenai tabarruj salah satunya terdapat dalam Surah Al-Ahzab ayat 33:

Tetaplah [tinggal] di rumah-rumahmu dan janganlah berhias [dan bertingkah laku] seperti orang-orang jahiliah dahulu. Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab [33]: 33)

Sementara itu, hadis tentang larangan tabarruj salah satunya berasal dari riwayat Imam Tirmidzi dan al-Bazaar:

Sesungguhnya seorang wanita adalah aurat, yang apabila keluar [dari rumah] maka setan akan mempercantik [orang yang] melihatnya. (HR. Tirmidzi dan al-Bazaar)

Ciri-ciri Tabarruj yang Harus Dihindari

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah mendapatkan pertanyaan seperti ini: “Akhir-akhir ini muncul di kalangan wanita (model) ‘abayah (pakaian luar/baju kurung) yang lengannya sempit dan di sekelilingnya (dihiasi) bordir-bordir atau hiasan lainnya. Ada juga sebagian ‘abayah wanita yang bagian ujung lengannya sangat tipis.”

Syaikh al Utsaimin menjawab, “Kita mempunyai kaidah penting (dalam hal ini), yaitu (hukum asal) dalam pakaian, makanan, minuman dan (semua hal yang berhubungan dengan) mu’amalah adalah mubah/boleh dan halal. Siapapun tidak boleh mengharamkannya kecuali jika ada dalil yang menunjukkan keharamannya.

Sesuai dengan dalil dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ