politik

3 Fakta Terkait Dugaan Kudeta Obama Terhadap Trump, Termasuk Politisasi Intelijen

3 Fakta Terkait Dugaan Kudeta Obama Terhadap Trump, Termasuk Politisasi Intelijen

WASHINGTON – Direktur Intelijen Nasional, Tulsi Gabbard, menuduh mantan Presiden AS Barack Obama dan beberapa pejabat senior di pemerintahannya merencanakan “konspirasi pemberontakan” untuk menggugurkan legitimasi kemenangan Donald Trump dalam pemilu 2016. Ia berjanji akan menyampaikan informasi lebih lanjut mengenai dugaan tersebut.

1. Obama Menuduh Trump Berkolusi dengan Rusia Tanpa Bukti

Dalam wawancara dengan Fox News, Gabbard mempublikasikan lebih dari 100 dokumen yang menggambarkan upaya terkoordinasi oleh pejabat senior era Obama untuk secara keliru menuduh Trump berkolusi dengan Rusia.

Dokumen-dokumen ini menunjukkan bahwa mata-mata Obama mengabaikan semua penilaian intelijen yang tidak menemukan keterlibatan Rusia dan menggantinya dengan klaim palsu—yang menjadi dasar bagi penyelidikan Russiagate, yang menurut Gabbard adalah “kudeta selama bertahun-tahun” terhadap Trump.

2. Politisasi Intelijen

“Implikasi dari hal ini sangat bersejarah,” ujar Gabbard kepada Sunday Morning Futures di Fox News. “Ini lebih dari sekadar politisasi intelijen. Ini adalah dokumen intelijen rekayasa yang bertujuan untuk mencapai tujuan Presiden Obama dan timnya, yaitu merongrong kepresidenan Trump dan menumbangkan kehendak rakyat Amerika.”

Gabbard menjanjikan pengungkapan lebih lanjut, dengan menyatakan, “Minggu depan kami akan merilis informasi yang lebih rinci mengenai bagaimana hal ini terjadi dan sejauh mana informasi ini disembunyikan dari rakyat Amerika.”

3. Keterlibatan CIA dan FBI

Dokumen-dokumen tersebut melibatkan para pejabat intelijen tinggi di bawah Obama—termasuk mantan DNI James Clapper, Direktur CIA John Brennan, Direktur FBI James Comey, dan Penasihat Keamanan Nasional Susan Rice—dalam dugaan plot tersebut.

Gabbard mengonfirmasikan rencana untuk menyerahkan temuan tersebut kepada Departemen Kehakiman dan FBI untuk diproses secara pidana, dan berjanji akan melakukan segala yang ia bisa untuk memastikan akuntabilitas.

“Mereka yang bertanggung jawab, berapa pun tingginya kekuasaan mereka saat itu, siapa pun yang terlibat dalam menciptakan konspirasi pengkhianatan ini terhadap rakyat Amerika, harus dimintai pertanggungjawaban,” tegasnya.

Moskow telah membantah campur tangan dalam proses pemilu AS. Skandal Russiagate telah sangat memengaruhi hubungan antara Washington dan Moskow, yang mengakibatkan sanksi, penyitaan aset, dan putusnya hubungan diplomatik.