6 Kriteria Pemilihan Paus Baru dalam Konklaf, Salah Satunya Penyembuh Luka Lama
6 Kriteria Pemilihan Paus Baru dalam Konklaf, Salah Satunya Penyembuh Luka Lama
VATICAN CITY – Dalam beberapa hari terakhir, para kardinal dari Gereja Katolik Roma diam-diam meninggalkan tembok Vatikan, berkumpul untuk makan malam tersembunyi di trattoria kuno dan sesi tertutup di ruang tamu pribadi di seluruh Roma.
Mereka ditugaskan untuk memilih pemimpin baru bagi 1,4 miliar umat Katolik, dan para pangeran Gereja ini terlibat dalam diskusi mendalam saat mereka berusaha menentukan penerus yang tepat untuk Paus Fransiskus, yang meninggal bulan lalu.
Semua pembicaraan ini akan mencapai puncaknya pada pukul 4:30 sore (14:30 GMT) pada hari Rabu ketika 133 kardinal berusia di bawah 80 tahun akan berbaris dalam prosesi khidmat, diiringi doa, dan memasuki Kapel Sistina untuk konklaf.
1. Mendengar Suara dari Bagian Selatan Dunia
Dalam pemilihan kali ini, Marco Politi, seorang pakar Vatikan dan penulis buku tentang Paus Fransiskus, mengungkapkan bahwa ada elemen baru. Bagian selatan dunia mulai bergerak dan meminta untuk didengar serta ingin menyampaikan pandangan mereka. Tidak cukup jika masalah-masalah diuraikan hanya dari pusat atau Belahan Bumi Utara.
Konklaf ini akan menampilkan perspektif yang beragam dari para kardinal yang berasal dari lebih dari 70 negara. Hal ini dianggap sebagai salah satu warisan Paus Fransiskus, yang telah menunjuk 80 persen dari mereka yang memenuhi syarat untuk memberikan suara dengan tujuan memperluas jangkauan global Gereja.
2. Paus Sebagai Mediator Karismatik
Banyak dari kardinal ini belum pernah bertemu sebelum minggu ini, dan tugas mereka tidaklah mudah. Isu utama adalah menentukan apakah akan melanjutkan jalan Paus Fransiskus, yang dikenal mendorong batasan tetapi tidak melanggarnya. Mereka mencari seorang mediator, penengah, dan juga pemimpin karismatik yang tahu bagaimana dekat dengan umat.
3. Sosok Pemersatu
Berbagai tema telah muncul dari diskusi pra-konklaf. Salah satu agenda utama adalah menemukan sosok pemersatu untuk memperbaiki hubungan dalam Gereja yang sangat terpecah, serta kedudukan lembaga tersebut dalam politik global.
Di tengah ketegangan ini, beberapa pendeta kritis menentang kesepakatan tahun 2018 antara Takhta Suci dan Tiongkok, yang memberikan Beijing hak untuk bersuara dalam pengangkatan uskup Katolik di sana, mengingat umat Katolik di negara tersebut menghadapi penindasan dari Partai Komunis.
Dalam pertemuan pra-konklaf, beberapa pihak mendesak agar berhati-hati dalam membuka diri terhadap agama lain, sebuah ciri khas dari kepemimpinan Paus Fransiskus, karena ada kekhawatiran bahwa identitas Katolik dapat terkikis. Topik lainnya termasuk krisis kejuruan, dengan semakin sedikit umat beriman yang memilih menjadi imam.
4. Menyembuhkan Luka yang Terbuka
Para kardinal juga membicarakan tentang pelecehan seksual dan skandal keuangan gereja, yang diidentifikasi oleh juru bicara Vatikan sebagai ‘luka’ yang harus tetap terbuka sebagai pengingat atas apa yang telah terjadi. Isu lain yang dibahas adalah keterbukaan Gereja bagi kaum awam, baik pria maupun wanita, yang telah dimulai oleh Paus Fransiskus.
5. Diplomat yang Ulung
Kardinal Pietro Parolin, sekretaris negara Vatikan, adalah salah satu nama yang paling sering disebut sebagai favorit oleh para bandar taruhan. Dianggap sebagai diplomat yang cakap dengan pemahaman mendalam tentang diplomasi, kardinal asal Italia ini dipandang oleh banyak orang sebagai seorang moderat yang bisa menarik dukungan dari kubu konservatif maupun liberal.
Minggu lalu, pria yang berusia 70 tahun ini menjadi subjek rumor di media sosial Katolik sayap kanan Amerika Serikat, yang mengklaim bahwa ia mengalami masalah kesehatan dan memerlukan pengobatan. Rumor ini dengan cepat dibantah oleh Vatikan.
6. Dukungan Mayoritas Kardinal
Spekulasi, gosip, dan berita palsu tidak akan memasuki Kapel Sistina yang megah pada hari Rabu. Saat itu, jendela kapel akan ditutup, telepon para kardinal akan disita, dan segala bentuk kontak dengan dunia luar dilarang.
