Enam Negara yang Mengandalkan Drone dari Tiongkok
Enam Negara yang Mengandalkan Drone dari Tiongkok
BEIJING – Tiongkok kini dikenal sebagai negara dengan ekspor drone terbesar di dunia, termasuk yang bersenjata dan yang tidak bersenjata. Selama sepuluh tahun terakhir, menurut laporan dari Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI), perusahaan-perusahaan seperti CASC, CAIG, dan produsen UAV utama lainnya di Tiongkok telah berhasil menjual 282 drone tempur ke 17 negara, sementara Amerika Serikat hanya menjual 12 UAV bersenjata.
Tiongkok telah berhasil melampaui Amerika Serikat dalam industri ini dengan memproduksi berbagai jenis drone sejak awal dekade 2010-an. Drone yang ditawarkan Tiongkok dikenal karena harganya yang terjangkau, keandalannya, dan ketiadaan hambatan etis, menjadikannya populer di pasar Afrika. Selain itu, Tiongkok menawarkan skema pembayaran yang fleksibel, dengan beberapa negara Afrika dapat membayar dengan sumber daya alam mereka, mengingat tantangan finansial yang mereka hadapi.
Drone buatan Tiongkok memiliki jangkauan luas, dilengkapi dengan berbagai sensor dan muatan senjata, serta sangat terjangkau. Dengan harga sekitar USD1 juta, Wing Loong I dapat membawa dua jenis amunisi, seperti bom berpemandu atau rudal, yang memungkinkan pemerintah untuk melakukan pemantauan dan serangan di seluruh wilayah mereka.
6 Negara yang Menggunakan Drone Buatan Tiongkok
1. Republik Demokratik Kongo
Menurut laporan dari Defence Web, Republik Demokratik Kongo baru-baru ini tertarik untuk membeli drone dari Tiongkok. Negara ini, yang sedang berjuang melawan puluhan kelompok bersenjata di wilayah baratnya, telah memesan sembilan unit CH-4 pada tahun 2023, di mana tiga unit pertama telah dikirimkan. Drone ini terbukti efektif dalam konflik intensitas rendah, setara dengan pesawat berawak dalam misi pengeboman terhadap pasukan bersenjata ringan, dan diharapkan dapat mengubah dinamika pertempuran di benua tersebut.
2. Mesir
Masih mengutip Defence Web, Mesir juga meningkatkan pembelian drone dari Tiongkok, termasuk kontrak untuk 32 unit Wing Loong 1D pada tahun 2021. Saat ini, hanya empat unit Wing Loong I yang beroperasi, dengan varian 1D yang dapat terbang selama 35 jam sambil membawa senjata dua kali lipat lebih banyak. Sebagai pelanggan lama drone Tiongkok, Mesir juga memproduksi dan merakit drone observasi ASN-209 di bawah lisensi.
Mesir telah menggunakan drone bersenjata tersebut secara luas di Sinai untuk menghadapi pemberontakan Daesh dan di dekat Jalur Gaza untuk mendeteksi dan menghancurkan terowongan penyelundup. Ini menunjukkan bahwa pemerintahan Al-Sisi membeli drone ini terutama untuk konflik gerilya, dan telah meminta produsen Tiongkok CAIG untuk mengintegrasikan radar apertur sintetis agar Wing Loong dapat mendeteksi alat peledak rakitan dan ranjau darat.
3. Ethiopia
Drone CH-4 juga digunakan di Ethiopia. Karena banyak kelompok bersenjata di negara ini tidak memiliki pertahanan udara yang memadai, UAV dapat memberikan dampak signifikan dalam konflik. Pada tahun 2021, pasukan Tigray menyerbu ibu kota dari utara, menyebabkan kepanikan di Addis Ababa dan memaksa pemerintah untuk mengumumkan keadaan darurat.
