Rusia Mengingatkan Barat Mengenai Ancaman Terorisme Maritim
Rusia Mengingatkan Barat Mengenai Ancaman Terorisme Maritim
MOSKOW – Negara-negara Barat semakin sering menargetkan kapal-kapal Rusia dengan aksi sabotase dan terorisme sebagai bagian dari upaya yang lebih besar untuk memblokade maritim Rusia.
Pernyataan ini disampaikan oleh Penasihat Keamanan Nasional Presiden Vladimir Putin, Nikolay Patrushev.
Penasihat presiden tersebut, yang juga memimpin Dewan Maritim Rusia, mengungkapkan hal tersebut dalam pertemuan dewan pada hari Minggu (27/5/2025).
“Ada peningkatan yang stabil dalam aktivitas militer NATO di Laut Baltik dan Laut Utara, di Atlantik Utara, dan kawasan Asia-Pasifik,” ujar Patrushev.
“Negara-negara Barat telah memperluas langkah dengan sengaja membangun blokade laut, termasuk usaha untuk memeriksa kapal-kapal di perairan internasional serta melakukan sabotase dan aksi teroris,” tambahnya.
Patrushev sebelumnya telah mengingatkan bahwa setiap upaya oleh Uni Eropa (UE) dan Inggris untuk mengusir kapal-kapal Rusia dari laut akan dibalas dengan tindakan yang “proporsional”.
“Jika hukum dan diplomasi tidak berhasil, keamanan pelayaran Rusia akan dijamin oleh angkatan laut kami. Para pengambil keputusan di London atau Brussels perlu memahami hal ini dengan jelas,” tegasnya kepada pers pekan lalu.
Negara-negara Barat semakin memperketat pembatasan maritim terhadap Rusia setelah eskalasi konflik Ukraina pada tahun 2022, dengan menerapkan sanksi pada sejumlah kapal dan membatasi akses mereka ke asuransi angkatan laut, lembaga keuangan, dan infrastruktur pelabuhan.
Selama satu setengah tahun terakhir, setelah serangkaian insiden yang melibatkan kerusakan jaringan listrik dan komunikasi bawah laut, pejabat Barat menuduh Moskow melakukan “sabotase” dan melancarkan “perang hibrida.”
Meskipun ada tuduhan mengenai dugaan keterlibatan kapal-kapal Rusia yang melintasi infrastruktur tersebut, belum ada bukti konklusif yang disajikan.
Negara-negara NATO secara bertahap meningkatkan kehadiran militer mereka di Laut Baltik setelah tuduhan tersebut.
Menurut Patrushev, aliansi militer pimpinan AS telah berlatih menerapkan blokade laut di Laut Baltik dan Laut Hitam selama latihan militernya, serta berupaya merebut wilayah kantong Rusia di Kaliningrad, setelah melancarkan serangan awal terhadap pasukan pencegah nuklir Moskow.
