Sejarah

Cerita Sultan Mataram dan Mimpi Seram yang Mengubah Pandangannya terhadap Ulama

RAJA MATARAM

Sultan Amangkurat I sering kali berselisih dengan tokoh-tokoh ulama. Ketika memimpin Kesultanan Mataram, Sultan kerap bertindak sewenang-wenang.

Dikabarkan, banyak ulama yang menjadi korban dari tindakan semena-mena Sultan Amangkurat I yang berkuasa setelah ayahnya, Sultan Agung, meninggal dunia.

Namun suatu ketika, Sultan Amangkurat I akhirnya berdamai dengan para ulama dan juga memperbaiki hubungan dengan Banten, yang sebelumnya sempat menjadi musuh Mataram.

Perubahan ini berawal dari sebuah mimpi buruk yang dialaminya. Diceritakan dalam “Disintegrasi Mataram: Dibawah Mangkurat I”, Sultan bermimpi tubuhnya dipenuhi dengan bisul bernanah.

Mimpi tersebut mengubah pandangannya dan membuatnya lebih religius. Ia meminta para ulama untuk berdoa baginya.

Sultan juga bersumpah untuk melancarkan perang ke arah timur, yakni Blambangan (Banyuwangi), dan berjanji menjaga hubungan baik dengan orang-orang Banten untuk mempertahankan reputasinya.

Para ulama dan kerabat, termasuk Pangeran Purbaya, menyatakan kesediaan mereka untuk berdoa demi kesembuhan Sultan dari penyakitnya dalam waktu sepuluh hari.

Sejak itu, Pangeran Purbaya sangat dihormati oleh Sultan Amangkurat I dan dipandang sebagai sosok yang keramat. Dari situ, perang ke arah timur akhirnya dimulai.