Berita

Menilik 7 Masjid Bersejarah di Jakarta, Ikonik dan Kaya Nilai Islam

Masjid Bersejarah di Jakarta yang Menjadi Ikon

Seiring dengan perjalanannya, Kota Jakarta, yang dahulu dikenal dengan nama Sunda Kelapa, lalu Batavia, dan akhirnya Jakarta, tak bisa dipisahkan dari pengaruh agama Islam. Para pemimpin masa lalu di kawasan ini dipercaya memiliki hubungan erat dengan Fatahillah.

Sejarah mencatat, pada tahun 1511 Masehi, penguasa Sunda Kelapa pernah bekerja sama dengan Kesultanan Demak untuk melawan Portugis di Malaka. Sejarawan menyimpulkan bahwa wajah Jakarta di masa lalu adalah bercorak Islam. Hal ini berlangsung hingga Kerajaan Pajajaran menguasai Sunda Kelapa pada tahun 1522.

Masjid-Masjid Tua yang Berperan dalam Sejarah Jakarta

1. Masjid Luar Batang

Masjid Luar Batang, dikenal juga sebagai Masjid Jami Keramat Luar Batang, terletak di Penjaringan, Jakarta Utara. Tepatnya berada di Jalan Luar Batang, Gang V No. 1. Masjid ini ramai dikunjungi peziarah karena di kompleksnya terdapat makam keramat Al-Habib Husein bin Abubakar Alaydrus dan asistennya, Habib Abdul Kadir.

Masjid ini didirikan oleh Alhabib Husen, yang datang dari Hadhramaut, Yaman Selatan, ke Batavia pada tahun 1736 Masehi. Di kawasan berawa-rawa dengan banyak pohon bakau di Barat Sunda Kelapa, ia membangun surau untuk beribadah dan menyebarkan Islam. Habieb Husen dianggap sebagai musuh oleh penjajah Belanda dan wafat pada 27 Juni 1756 Masehi.

2. Masjid Cut Meutia

Masjid Cut Meutia berlokasi di Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, dekat dengan Stasiun KRL Gondangdia. Awalnya, bangunan ini merupakan kantor biro arsitek dan pengembang N.V. Bouwploeg, milik Pieter Adriaan Jacobus Moojen. Setelah mengalami beberapa perubahan fungsi, pada masa Gubernur Ali Sadikin, bangunan ini diresmikan sebagai masjid provinsi pada tanggal 18 Agustus 1987.

Arsitektur masjid ini menampilkan ciri khas bangunan zaman kolonial Belanda dan menjadi ikon Jakarta. Masjid ini sering menjadi lokasi kegiatan selama bulan Ramadhan, termasuk festival jazz Ramadhan.

3. Masjid Al Makmur Cikini

Masjid Al-Makmur terletak di Cikini dan didirikan pada tahun 1860. Masjid ini berdiri di atas tanah milik Raden Saleh Syarif Bustaman, seorang seniman Jawa yang terkenal di Eropa. Pada masanya, masjid ini hampir menjadi pusat perbelanjaan, namun berkat perjuangan tokoh Islam, masjid ini tetap berdiri dan kini menjadi cagar budaya Jakarta.

4. Masjid Al Anshor Tambora

Masjid Al Anshor, terletak di Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, adalah masjid tertua di DKI Jakarta, didirikan sejak 1648. Awalnya dibangun oleh pedagang asal Gujarat dan Bengal. Meskipun telah mengalami renovasi, masjid sederhana ini masih berdiri di tengah-tengah rumah-rumah di daerah Tambora.

5. Masjid Jami Al-Atiq Kampung Melayu Besar

Masjid ini terletak di Jalan Masjid I Kampung Melayu Besar, Jakarta Selatan, dan merupakan peninggalan Maulana Hasanuddin dari Sultan Banten pertama. Arsitektur masjid ini memiliki ciri khas dengan atap bersusun dan simbol panah, yang juga dapat ditemukan di masjid-masjid lain di Jawa.

6. Masjid Al-Anwar Muara Angke

Masjid ini sebelumnya dikenal sebagai Masjid Angke, terletak di Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Dibangun pada tahun 1761 oleh masyarakat Bali di Batavia, arsitekturnya menunjukkan pengaruh budaya Bali. Kapitan Bali, Mohammad Paridan Tousalette Babandan, pernah menyumbangkan hasil sewa rumahnya untuk masjid ini.