Tingginya Angka Keguguran dan Kelahiran Prematur di Gaza
Tingginya Angka Keguguran dan Kelahiran Prematur di Gaza
JAKARTA – Dokter Spesialis Obgyn dr Prita Kusumaningsih adalah salah satu dokter yang berkesempatan melakukan misi kemanusiaan sebagai tenaga medis di Gaza, Palestina. Prita menjadi bagian dari Emergency Medical Team (EMT 2) yang diberangkatkan oleh Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).
Prita membagikan pengalamannya selama bertugas di Gaza. Awalnya, dia mencatat bahwa tingkat kelahiran di sana sangat tinggi. “Setidaknya ada 20 persalinan setiap hari, dan ini menurut para dokter setempat sudah mengalami penurunan. Sebelumnya lebih banyak lagi sebelum adanya gencatan senjata,” ujar Prita pada konferensi pers BSMI di Jakarta Timur, Minggu (4/5/2025).
“Warga dari utara dipaksa pindah ke selatan, dan setelah gencatan senjata, mereka yang rumahnya di utara kembali ke utara. Ini memang sedikit menurun,” lanjutnya.
Tingkat kelahiran yang sangat tinggi ini, menurut Prita, merupakan berkah dari Allah bagi warga Palestina, khususnya Gaza. “Karena bagaimanapun harus ada upaya untuk mempertahankan generasi. Keberlangsungan generasi di Gaza harus tetap ada sebagai penyeimbang dari kematian bayi dan anak-anak,” jelasnya.
Namun, meski angka kelahiran tinggi, dr. Prita mengungkapkan bahwa angka kelahiran prematur juga tinggi. “Dalam satu kesempatan, bisa ada tiga persalinan prematur, dan mereka lahir dengan berat badan yang kurang,” katanya.
Saat mengunjungi ruang NICU, ia melihat bayi yang dirawat di inkubator dengan berat 1.190 gram atau sekitar 1.2 kilogram.
“Inilah sebabnya ketika terjadi serangan di rumah sakit, dokter selalu berteriak, bagaimana menyelamatkan bayi ini. Karena mereka tidak berdaya. Jika inkubator rusak, hidup mereka terancam,” ujarnya.
Tak hanya persalinan prematur yang tinggi, dr. Prita juga menyatakan bahwa angka keguguran di sana cukup tinggi akibat kelelahan ibu. Kelelahan fisik karena sering berpindah tempat, hidup di tenda dengan kondisi yang tidak memadai, kekurangan air bersih, makanan, hingga malnutrisi, serta kelelahan mental.
“Kelelahan mental karena bom, apalagi jika ada anggota keluarga yang syahid. Seberapa teguh pun mereka, tetaplah manusia biasa. Mereka berusaha kuat, dan ini tercermin dari bagaimana mereka selalu mengakhiri cerita dengan alhamdulillah,” pungkasnya.
