Bagaimana Jika Mata Uang BRICS Diterapkan, Apa Kekhawatiran India?
Bagaimana Jika Mata Uang BRICS Diterapkan, Apa Kekhawatiran India?
JAKARTA – Pembahasan mengenai penerapan mata uang bersama BRICS kembali menjadi sorotan setelah China dan Rusia berupaya mengedepankan agenda tersebut dalam beberapa pertemuan puncak terakhir. Di sisi lain, India dan Brasil memilih untuk bersikap lebih waspada, bahkan cenderung menolak ide itu, menunjukkan adanya perbedaan pandangan di dalam aliansi ekonomi negara-negara berkembang ini.
Menurut laporan dari BERITA88, Presiden Rusia Vladimir Putin, dalam KTT BRICS tahun lalu, sempat memamerkan mock-up uang kertas sebagai simbol kesiapan BRICS untuk meluncurkan tender baru yang diharapkan dapat menyaingi dolar Amerika Serikat (AS). Namun, hingga saat ini, rencana tersebut belum mencapai tahap teknis yang jelas, terutama karena adanya penolakan dari India dan Brasil.
India secara terbuka menolak gagasan mata uang BRICS. Pemerintah India berpendapat bahwa penerapan mata uang bersama akan mengancam kedaulatan ekonomi nasional dan stabilitas mata uang rupee. Selain itu, India khawatir bahwa sistem keuangan nasionalnya yang sangat terhubung dengan dolar AS akan terguncang jika harus beralih ke sistem baru yang belum teruji.
Penolakan dari India juga didasarkan pada perbedaan struktur ekonomi antarnegara anggota BRICS. India berpendapat bahwa keragaman ekonomi dan kebutuhan finansial setiap negara membuat penerapan satu mata uang menjadi sangat rumit dan berisiko tinggi. Selain itu, India melihat bahwa upaya dedolarisasi justru lebih menguntungkan China dan Rusia, yang selama ini berupaya mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan Barat.
