Berita

Profil dan Keyakinan Zab Judah: Sang Juara Dunia yang Absen di Olimpiade

Biodata dan Keyakinan Zab Judah: Juara Dunia yang Tidak Sempat Berlaga di Olimpiade

Zab Judah adalah nama besar di dunia tinju. Dikenal dengan julukan Super Judah, ia memiliki kecepatan dan kekuatan pukul yang menonjol, menjadikannya salah satu petinju kelas welter paling disegani pada masanya. Namun, di balik catatan gemilangnya, ada cerita tentang perjuangan, kekecewaan, dan kebangkitan yang membentuknya menjadi juara sejati.

Dia pertama kali mengenal tinju dari ayahnya, Yoel Judah, seorang juara dunia kickboxing enam kali. Zab memiliki sembilan saudara, lima di antaranya juga menekuni dunia tinju. Dia selalu menyebut ayahnya, yang juga pelatihnya, sebagai petarung terbaik di keluarga.

“Ayah saya adalah petarung terbaik dalam keluarga, tanpa ragu,” ujar Judah. “Kami besar di Brooklyn, melewati masa-masa sulit yang membentuk saya. Ayah adalah panutan saya. Ia membesarkan tujuh anak laki-laki dan dua perempuan, menjauhkan kami dari narkoba, dan mengajari kami disiplin,” tambahnya.

Zab mengungkapkan bahwa ayahnya menjadi inspirasinya sejak kecil. “Saya ingat pergi ke sasana, menyaksikan ayah berlatih. Saya berpikir suatu hari nanti bisa sehebat dia. Dia bisa menjatuhkan lawan,” katanya.

Meskipun awalnya ibunya menolak, Zab Judah akhirnya mendapatkan restu setelah ibunya melihat bakat alami Zab di ring tinju. “Ibu saya sangat menentang. Tapi setelah melihat saya bertarung beberapa kali, dia jadi lebih yakin dan berkata, ‘Wah, anak ini hebat.'”

Di awal karier amatirnya, Zab Judah mencatatkan rekor mengesankan 110-5, dua kali juara nasional, dan tiga kali juara New York Golden Gloves. Namun, di balik prestasi tersebut, ada cerita pilu yang harus dihadapinya.

Kisah ini terkait dengan kegagalannya masuk tim Olimpiade AS 1996 setelah kalah dari David Diaz di final. “Gagal masuk tim Olimpiade sangat sulit karena saya selalu bermimpi memenangkan medali emas,” kenang Judah.

Namun, kekecewaan itu tidak membuatnya terpuruk. Sebaliknya, ia menjadikannya motivasi untuk beralih ke karier profesional dan meraih gelar juara dunia. “Setelah semuanya berakhir, saya memutuskan untuk fokus sepenuhnya pada karier profesional dan memenangkan gelar juara dunia,” tegasnya.