Kesehatan

Kerja Sama BPMI dalam Program Peduli Thalasemia untuk Peningkatan Kesehatan dan Halal

Kerja Sama BPMI dalam Program Peduli Thalasemia untuk Peningkatan Kesehatan dan Halal

JAKARTA – Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI), dengan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar sebagai pemimpinnya, memulai kolaborasi strategis untuk Program Peduli Thalasemia di ruang VVIP Masjid Istiqlal, Taman Wijayakusuma, Jakarta Pusat.

Nasaruddin Umar menekankan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan layanan sosial, termasuk kesehatan. Program ini menyoroti pentingnya prinsip halal dan thayyib dalam produk herbal yang mendukung terapi thalasemia, seperti BRAZ 131.

Baca Juga :

Paskah 2025, Masjid Istiqlal Sediakan Lahan Parkir bagi Jemaat Gereja Katedral Jakarta

Masjid diharapkan menjadi tempat ibadah sekaligus pusat peradaban dan kepedulian sosial. Kolaborasi ini diharapkan membawa dampak nyata bagi generasi muda. Produk yang digunakan dijamin aman, halal, dan bermanfaat. Sinergi riset dan inovasi halal di bidang farmasi menekankan aspek etika, kemaslahatan, dan keberlanjutan, ujar Nasaruddin yang juga menjabat sebagai Menteri Agama, Minggu (27/4/2025).

Program Peduli Thalasemia adalah hasil kerja sama antara Istiqlal Halal Center (IHC) yang dipimpin oleh Nur Khayin Muhdlor, Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STFI) diwakili oleh Adang Fisrmansyah, dan Yayasan Thalassaemia Indonesia (YTI) melalui Oktariono Hendratama.

Menurut Ketua Pembina Yayasan Salman Peduli Berkarya, Heikal Safar, acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat serta perwakilan lembaga dan organisasi, termasuk Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia (POPTI).

Acara ini juga ditandai dengan peluncuran simbolis Program Skrining dan Edukasi Thalasemia yang menargetkan 3.000 peserta pada tahap awal.

Baca Juga :

Kisah Mualaf Ray Sahetapy, Mengucapkan Syahadat di Masjid Istiqlal

Peserta akan mendapatkan layanan skrining genetik dan edukasi pencegahan penyakit yang jumlah penderitanya terus meningkat di Indonesia. Berdasarkan data tahun 2024, kasus thalasemia di Indonesia telah mencapai lebih dari 13.000, dengan konsentrasi tertinggi di Jawa Barat, khususnya di kota Bandung.

Peluncuran ini juga menandai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara lembaga-lembaga terkait untuk memperkuat kerja sama jangka panjang dalam integrasi nilai-nilai halal ke dalam sistem layanan kesehatan. Program ini bertujuan untuk menggabungkan pendekatan iman, ilmu, dan aksi sosial dalam menciptakan ekosistem halal yang inovatif dan inklusif.

Dengan semangat kebersamaan dan kolaborasi lintas sektor, Program Peduli Thalasemia menjadi langkah konkret menuju masa depan Indonesia yang lebih sehat dan berkeadilan, dengan masjid sebagai pusat gerakan sosial dan spiritual bangsa.