Berita

Peran Penting Tanah Jarang dalam Strategi Lobi China terhadap Trump

China dan Pengaruhnya Melalui Tanah Jarang dalam Lobi Terhadap Trump

JAKARTA – Mineral berharga yang dikenal sebagai tanah jarang atau rare earth memiliki peran signifikan dalam meredakan ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China dalam beberapa tahun terakhir. Kedua negara ini baru saja mencapai kesepakatan untuk mengurangi tarif dalam periode 90 hari mendatang, menandai tahap baru dalam perang dagang AS dan China.

Kesepakatan mengenai tarif antara AS dan China membawa angin segar bagi pasar yang sebelumnya khawatir dengan ketegangan perdagangan. Di balik proses negosiasi ini, penguasaan dan kendali atas mineral tanah jarang atau rare earth menjadi salah satu faktor yang turut mempengaruhi.

Dengan dominasi China di pasar global rare earth, dan upaya AS untuk memastikan pasokan tetap stabil, isu tanah jarang ini menjadi sangat krusial dalam perjanjian dagang. Rare earth adalah komoditas penting yang digunakan di berbagai industri strategis, mulai dari baterai kendaraan listrik, smartphone, hingga teknologi militer.

Selama ini, China mendominasi pasar tanah jarang di AS. Banyak analis melihat tanah jarang sebagai alat bagi China untuk menekan AS dalam negosiasi dagang yang lebih luas.

Di tengah ketegangan global, pasokan mineral ini dianggap sebagai isu strategis yang menyangkut keamanan nasional, bukan sekadar perdagangan. AS menilai bahwa akses yang stabil terhadap rare earth dari China adalah hal yang tidak dapat ditawar-tawar.

Menurut Dexter Roberts, Peneliti Senior Nonresiden di Atlantic Council, setelah China memberlakukan kontrol ekspor rare earth kepada AS, mereka tidak akan dengan mudah melepaskan senjata ekonomi ini.

Laporan terbaru Bloomberg menyebutkan bahwa melalui perjanjian dagang yang baru, AS akan lebih mudah mendapatkan izin ekspor tanah jarang dari Beijing. Namun, penghapusan pembatasan secara total tampaknya tidak akan terjadi, menurut beberapa sumber industri di China.

China sebelumnya telah memasukkan tujuh jenis mineral tanah jarang dan produk terkait ke dalam daftar kontrol pada bulan April sebagai bagian dari langkah balasannya terhadap tarif AS. Kebijakan ini mengharuskan eksportir AS untuk mengajukan izin sebelum menjual di luar China.

Jeorg Wuttke, mitra di DGA-Albright Stonebridge Group, menyatakan bahwa China tidak ingin sepenuhnya memutus pasokan ke AS, tetapi ingin menggunakan ini sebagai ancaman. Beijing ingin tetap menjadi pemasok yang dapat diandalkan, sambil memperingatkan dampak dari kebijakan AS.