Berita

Dunia, Lihatlah! Anak-anak Gaza Tewas Karena Kelaparan Akibat Blokade

GAZA – Kondisi Mengkhawatirkan Anak-anak Gaza

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menunjukkan kepada dunia tentang krisis kelaparan yang melanda Jalur Gaza, Palestina, akibat blokade militer yang dilakukan oleh Israel. Di wilayah tersebut, 80 anak dilaporkan meninggal dunia karena kelaparan.

“Gaza mengalami krisis kelaparan yang diciptakan oleh manusia akibat blokade bantuan,” ujar Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus kepada para wartawan dalam konferensi pers virtual dari Jenewa pada Rabu. “Ini adalah karena blokade,” lanjutnya.

“Saya tidak tahu apa lagi yang bisa disebut selain kelaparan massal, dan ini buatan manusia serta sangat jelas,” tambahnya, seperti yang dilaporkan oleh sumber berita internasional, Kamis (24/7/2025).

Sedikitnya 10 orang tewas akibat malnutrisi dan kelaparan dalam 24 jam terakhir, menurut otoritas Gaza, sehingga total korban jiwa akibat krisis ini mencapai 111 orang, dengan 80 di antaranya adalah anak-anak.

Situasi Mengerikan di Gaza

Seperempat populasi di wilayah ini kini menghadapi kondisi mendekati kelaparan, menurut penilaian WHO. Hampir 100.000 perempuan dan anak-anak mengalami malnutrisi akut yang parah.

“Tingkat malnutrisi akut telah melampaui 10 persen, dan lebih dari 20 persen perempuan hamil dan menyusui yang menjalani pemeriksaan mengalami malnutrisi, sering kali parah,” ujar Ghebreyesus.

“Krisis kelaparan ini diperparah oleh runtuhnya jaringan bantuan dan pembatasan akses, dengan 95 persen rumah tangga di Gaza menghadapi kekurangan air yang ekstrem,” tambahnya.

Komentar dari pimpinan WHO ini mengikuti surat yang ditandatangani oleh 109 lembaga bantuan dan hak asasi manusia global, termasuk Dokter Lintas Batas, Oxfam International, dan Amnesty International, yang memperingatkan bahwa warga sipil dan rekan-rekan mereka “semakin kurus kering”.

“Dengan pengepungan yang dilakukan oleh pemerintah Israel menyebabkan rakyat Gaza kelaparan, para pekerja bantuan kini bergabung dalam antrean makanan yang sama, mempertaruhkan nyawa hanya untuk memberi makan keluarga mereka,” demikian pernyataan bersama mereka.