Militer

Pesawat Tempur AS Senilai Rp1,2 Triliun Jatuh ke Laut Setelah Gagal Mendarat di Kapal Induk

Pesawat Tempur AS Senilai Rp1,2 Triliun Jatuh ke Laut

GAZA – Angkatan Laut Amerika Serikat kembali mengalami kehilangan jet tempur di Laut Merah, menandai insiden kedua yang melibatkan F/A-18 Super Hornet dari USS Harry S. Truman dalam kurun waktu lebih dari seminggu. Ini merupakan kerugian ketiga sejak Washington meningkatkan operasi terhadap kelompok Houthi di Yaman.

Pesawat ini dilaporkan jatuh ke laut setelah mengalami kegagalan sistem penahan saat mencoba mendarat di kapal induk, memaksa pilot dan petugas sistem persenjataan untuk melontarkan diri. Insiden ini pertama kali dilaporkan oleh CNN pada hari Selasa, berdasarkan informasi dari beberapa sumber yang memahami situasi tersebut.

“Penangkapan gagal, menyebabkan pesawat jatuh ke laut. Kedua penerbang berhasil melontarkan diri dengan selamat dan diselamatkan oleh helikopter dari Skuadron Tempur Laut Helikopter 11,” ungkap seorang pejabat pertahanan kepada USNI News.

“Para penerbang telah dievaluasi oleh tim medis dan dinyatakan mengalami cedera ringan. Tidak ada personel dek penerbangan yang terluka.”

Insiden ini terjadi pada hari yang sama ketika kelompok pemberontak Houthi, yang didukung Iran, dilaporkan “menembak” ke arah Truman. Namun, belum jelas apakah kedua peristiwa ini saling terkait. Investigasi resmi sedang berlangsung, sementara Angkatan Laut AS belum secara resmi mengonfirmasi detailnya.

Minggu lalu, jet F/A-18 lainnya jatuh dari Truman selama manuver menghindari tembakan rudal dari Houthi. Dalam insiden terpisah pada Desember lalu, sebuah F/A-18 secara tidak sengaja ditembak jatuh oleh kapal penjelajah USS Gettysburg sesaat setelah diluncurkan dari Truman untuk melakukan serangan ke target Houthi di Yaman.

Setiap F/A-18 Super Hornet diperkirakan berharga antara USD60 juta dan USD70 juta menurut Pentagon. Houthi juga mengklaim telah menembak jatuh lebih dari selusin drone MQ-9 Reaper Amerika dalam setahun terakhir, yang masing-masing bernilai sekitar $30 juta.

AS telah berulang kali terlibat bentrokan dengan Houthi sejak kelompok tersebut mulai menargetkan pengiriman di Laut Merah pada akhir tahun 2023, dengan alasan solidaritas terhadap rakyat Palestina di tengah-tengah kampanye militer Israel di Gaza.

Kelompok penyerang Truman telah melancarkan sejumlah serangan udara di Yaman sebagai bagian dari operasi gabungan AS-Inggris yang lebih besar.

Pada hari Selasa, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Washington akan “segera menghentikan” kampanye pengeboman, dengan menyatakan bahwa Houthi telah “menyerah” dan tidak lagi mencari konfrontasi.

Tak lama setelah pengumuman tersebut, Oman mengonfirmasi bahwa mereka telah memfasilitasi perjanjian gencatan senjata antara Washington dan Houthi, dengan kedua belah pihak berjanji untuk tidak saling menyerang di Laut Merah.