Berita

Indonesia Gemar Memperoleh Berbagai Jet Tempur Seperti Gado-gado, Arah Pertahanannya Dinilai Kabur

Indonesia Gemar Memperoleh Berbagai Jet Tempur Seperti Gado-gado, Arah Pertahanannya Dinilai Kabur

JAKARTA – Pieter Pandie, ahli pertahanan, mengkritisi Indonesia yang gemar membeli jet tempur dari sejumlah pemasok internasional. Menurutnya, kebijakan membeli pesawat tempur dari berbagai jenis ini menyerupai ‘gado-gado’ dan mengindikasikan strategi pertahanan yang terpecah-belah.

Strategi seperti ini akan meningkatkan biaya interoperabilitas dan pemeliharaan serta memancarkan sinyal geopolitik yang tidak konsisten.

Pandie, peneliti dari Departemen Hubungan Internasional di Centre for Strategic and International Studies (CSIS), menyatakan bahwa tanpa buku putih pertahanan baru sejak 2015 dan rencana modernisasi yang belum tercapai, Jakarta sangat memerlukan kerangka kerja yang jelas.

Baca Juga: Indonesia Sedang Menanti Jet Tempur Rafale, Namun Digoda Boeing dengan F-15EX

“Kerangka ini harus menjelaskan tujuan kapabilitas, penilaian ancaman, jadwal, dan anggaran untuk mengarahkan proses akuisisi dan memulihkan koherensi strategis,” tulis Pandie dalam artikelnya di East Asia Forum.

Kesepakatan Indonesia untuk membeli jet tempur KAAN dari Turki menambah kerumitan dalam portofolio pengadaan pertahanannya. Keputusan ini menggambarkan pola yang lebih luas dalam modernisasi militernya—pola yang semakin menimbulkan pertanyaan tentang koherensi strategis dan sinyal geopolitik.

“Indonesia menghadapi risiko inefisiensi operasional tetapi juga kemungkinan mengirimkan sinyal yang bertentangan kepada mitra internasionalnya,” jelasnya.

Indonesia telah berusaha untuk memodernisasi dan mengganti alat utama sistem senjata (alutsista) yang sudah tua dengan bernegosiasi dengan berbagai pemasok. Pendekatan pengadaan yang beragam ini bertujuan untuk menghindari ketergantungan pada satu pemasok senjata sekaligus mengatasi keterbatasan sumber daya domestik dan kebutuhan untuk menjaga otonomi strategis di luar negeri. Pengalaman embargo senjata di masa lalu juga memotivasi Jakarta untuk mendiversifikasi pemasoknya.