Pendidikan

Riwayat Pendidikan Para Presiden Indonesia, Sudah Tahu?

Riwayat Pendidikan Para Presiden Indonesia

JAKARTA – Riwayat pendidikan para Presiden Indonesia sangat menarik untuk disimak. Beberapa dari mereka bahkan pernah menjalani pendidikan militer.

Pendidikan yang ditempuh oleh para Presiden Indonesia menjadi bagian penting dari sejarah perjalanan bangsa ini. Setiap pemimpin memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda, mulai dari teknik hingga militer.

Bekal pendidikan yang mereka peroleh turut membentuk karakter, visi, dan gaya kepemimpinan dalam memajukan negara. Berikut adalah ulasan lengkapnya yang dirangkum dari berbagai sumber.

Riwayat Pendidikan Para Presiden Indonesia

1. Ir. Soekarno

Soekarno, Presiden pertama Indonesia, lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901 dan wafat di Jakarta pada 21 Juni 1970.

Riwayat pendidikannya mencakup pendidikan dasar di HIS, kemudian berlanjut ke Europeesche Lagere School (ELS) dan Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya.

Setelah menyelesaikan HBS, Soekarno melanjutkan studi di Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB), di mana ia meraih gelar insinyur di bidang Teknik Sipil pada tahun 1926.

2. Soeharto

Selanjutnya adalah Soeharto, Presiden ke-2 RI, yang memimpin setelah Soekarno. Ia memiliki latar belakang pendidikan yang sederhana tetapi kuat di bidang militer.

Soeharto awalnya bersekolah di SD Puluhan Godean, tetapi kemudian beberapa kali pindah sekolah karena berbagai alasan.

Pada sekitar tahun 1941, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah. Setelah lulus, ia mengikuti pendidikan di Sekolah Militer Kolonial Belanda sebelum bergabung dengan Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL).

Pendidikan militernya kemudian berlanjut di Pembela Tanah Air (PETA) selama pendudukan Jepang, yang sangat mempengaruhi disiplin dan strategi kepemimpinannya di era Orde Baru.

3. B.J. Habibie

Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie adalah Presiden ke-3 RI, yang menjabat setelah berakhirnya era Soeharto.