Pendidikan

Menginspirasi, Perjalanan SMPN 7 Muara Kaman Menembus Batas sebagai Google Reference School

SMPN 7 Muara Kaman: Menginspirasi dengan Menembus Batas

KALTIM – Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Prinsip ini sangat cocok untuk menggambarkan semangat transformasi yang telah dilakukan oleh SMPN 7 Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Dengan tekad dan usaha keras untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi, kini mereka telah meraih hasil yang membanggakan. Perjuangan yang tidak mudah, namun sekolah yang terletak di pedalaman Kalimantan ini berhasil ‘menembus batas’ dan menjadi SMP negeri pertama di Indonesia yang dianugerahi gelar Google Reference School. Program internasional dari Google ini diberikan kepada sekolah-sekolah yang telah memanfaatkan teknologi secara optimal dalam pembelajaran.

Penghargaan ini membuktikan bahwa SMPN 7 Muara Kaman, yang berlokasi di daerah terpencil, telah menembus batas dan setara dengan sekolah-sekolah Google Reference School di tingkat global.

Perasaan bangga dan haru menyelimuti SMPN 7 Muara Kaman. Seorang guru, Suwito, menyatakan bahwa gelar Google Reference School ini merupakan hadiah istimewa dan motivasi untuk terus berkembang. Pengumuman mengenai terpilihnya SMPN 7 Muara Kaman sebagai Google Reference School diterima melalui email pada 5 Juni 2025.

‘Rasanya sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Ini adalah hadiah istimewa bagi kami, menjadi SMP negeri pertama di Indonesia yang terpilih sebagai Google Reference School. Dan sekolah itu adalah milik kami, yang berada jauh di pelosok dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kami sama sekali tidak menyangka, dan bahkan sampai meneteskan air mata,’ ujar Suwito, Kamis (19/6/2025).

Bagi para guru di SMPN 7 Muara Kaman, menjadi Google Reference School adalah pencapaian yang luar biasa. Suwito menceritakan bahwa sekolah ini berlokasi di daerah terpencil. Jarak ke ibu kota kabupaten memerlukan waktu tempuh 3-4 jam dalam kondisi normal. Bila ada kendala seperti banjir atau jalan berlumpur akibat hujan, perjalanan bisa lebih lama. Kondisi ini juga membuat beberapa guru harus menginap di sekolah dan baru pulang ke rumah pada akhir pekan.

Selain lokasinya yang terpencil, minimnya fasilitas transportasi juga menjadi tantangan tersendiri. ‘Dengan segala keterbatasan ini, bisa terpilih adalah sesuatu yang luar biasa,’ tambah Suwito.