Israel Memiliki Senjata Nuklir, Namun Khawatir Terhadap Iran yang Belum Memilikinya
Israel Memiliki Senjata Nuklir, Namun Khawatir Terhadap Iran yang Belum Memilikinya
JAKARTA – Israel memulai serangan terhadap Iran sejak Jumat lalu dengan alasan kekhawatiran bahwa Teheran akan mengembangkan senjata nuklir. Ironisnya, Israel sendiri telah lama memiliki senjata nuklir, namun tetap memilih untuk tidak mengungkapkannya.
Iran menyangkal upaya pengembangan senjata nuklir, menegaskan bahwa program nuklir mereka bertujuan untuk kepentingan sipil. Iran adalah salah satu penanda tangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), yang melarang negara-negara non-nuklir untuk memperoleh senjata nuklir.
NPT memberikan otoritas kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memastikan negara-negara non-nuklir mematuhinya. Minggu lalu, IAEA menuduh Iran melanggar kewajibannya, tuduhan yang ditolak keras oleh Teheran dan digunakan sebagai alasan oleh Israel untuk melancarkan serangan mendadak.
Situs nuklir dan militer Iran telah menjadi target serangan Israel dalam Operasi Rising Lion sejak Jumat lalu, menewaskan lebih dari 200 orang akibat serangan militer tersebut.
Iran membalas dengan melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel dalam Operasi True Promise III. Akibatnya, situs militer dan intelijen Israel diserang, dengan korban tewas mencapai lebih dari 20 orang.
Sejarah Kepemilikan Nuklir Israel
Tidak seperti Iran, Israel tidak ikut serta dalam NPT, dan merupakan salah satu dari lima negara yang tidak terikat oleh perjanjian 1968 tersebut, membuat IAEA tidak dapat melakukan pemantauan atau verifikasi terhadap senjata nuklir Israel.
Program nuklir Israel dikelilingi oleh kerahasiaan, dengan kebijakan untuk tidak mengonfirmasi atau menyangkal keberadaannya. Namun, dokumen yang dibuka untuk publik, investigasi, dan pengungkapan oleh whistleblower pada tahun 1980-an menunjukkan bahwa Israel memiliki senjata nuklir.
Israel adalah salah satu dari sembilan negara yang diketahui memiliki senjata nuklir, bersama Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Prancis, China, India, Pakistan, dan Korea Utara. Diperkirakan Israel memiliki sekitar 90 hulu ledak nuklir dan cukup plutonium untuk memproduksi sekitar 200 senjata nuklir lagi, menurut Nuclear Threat Initiative.
Menurut laporan BERITA88, Israel diyakini memiliki antara 750 dan 1.110 kg plutonium, cukup untuk membuat 187 hingga 277 senjata nuklir. Senjata nuklir Israel dapat diluncurkan dari udara, laut, dan darat.
Israel memiliki pesawat F-15, F-16, dan F-35 buatan AS yang dapat dimodifikasi untuk membawa bom nuklir. Juga diyakini memiliki enam kapal selam kelas Dolphin buatan Jerman yang mampu meluncurkan rudal jelajah nuklir.
Rezim Zionis juga memiliki berbagai rudal balistik Jericho berbasis darat dengan jangkauan hingga 4.000 km, di mana sekitar 24 di antaranya dapat membawa hulu ledak nuklir, meskipun jumlah pastinya tidak jelas.
Bagaimana program nuklir Israel dimulai? Perdana Menteri pertama Israel, David Ben Gurion, memulai proyek nuklir pada pertengahan hingga akhir 1950-an. Sebuah kompleks besar didirikan di Dimona, di gurun Negev, dengan bantuan dari pemerintah Prancis.
“Sebagian besar catatan menunjukkan peran Prancis pada akhir 1950-an,” ujar Shawn Rostker, analis riset di Pusat Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi kepada BERITA88.
“Prancis membantu pembangunan reaktor di Dimona, menyediakan teknologi reaktor utama, dan mendukung kemampuan pemrosesan ulang plutonium, yang menjadi dasar kemajuan nuklir Israel,” tambahnya.
Kerja sama antara Prancis dan Israel berasal dari permusuhan bersama terhadap Gamal Abdel Nasser, presiden Mesir saat itu, menurut sejarawan Prancis.
Kolaborasi Prancis-Israel ini dirahasiakan, bahkan Amerika Serikat, sekutu terdekat Israel, awalnya tidak menyadarinya.
