Kekalahan Cirebon dalam Pertempuran Melawan Banten Berujung Tragis Sehari Sebelum Idulfitri
Kekalahan Cirebon dalam Pertempuran Melawan Banten Berujung Tragis Sehari Sebelum Idulfitri
SEMARANG – Ketegangan antara Kesultanan Banten dan Cirebon meningkat selama bulan Ramadan. Konflik antara dua kerajaan Islam di Pulau Jawa tersebut memuncak sehari menjelang Hari Raya Idulfitri, pada hari ke-30 bulan Ramadan.
Pada masa itu, Kesultanan Cirebon termasuk dalam wilayah yang dikuasai Kerajaan Mataram. Cirebon berusaha membujuk Sultan Banten untuk mengakui kekuasaan Mataram dan menghormati rajanya. Namun, ajakan ini ditolak tegas oleh Kesultanan Banten.
Sultan Banten menolak mengakui raja lain selain Sultan Mekkah, yang kerap mengirimkan surat berisi ajaran kebijaksanaan. Akibatnya, Banten memutuskan untuk mempersiapkan serangan ke Cirebon, wilayah di bawah kendali Kesultanan Mataram.
Pasukan Banten bersiap menghadapi tentara Cirebon meskipun dalam jumlah terbatas. Benar saja, terlihat pergerakan 60 kapal layar menuju Pelabuhan Tanara. Pemimpin pasukan tersebut adalah Ngabei Panjangjiwa, didampingi oleh Pangeran Martasari, sebagaimana diungkapkan dalam “Disintegrasi Mataram: Dibawah Mangkurat I” oleh H.J. De Graaf, yang dikutip BERITA88, Rabu (21/5/2025).
