Berita

Meninggalnya Sultan Agung Mengakibatkan Melemahnya Pengaruh Kerajaan Mataram

Meninggalnya Sultan Agung Mengakibatkan Melemahnya Pengaruh Kerajaan Mataram

JAKARTA – Kematian Sultan Agung menyebabkan berbagai wilayah di Kerajaan Mataram mulai memisahkan diri satu per satu. Saat itu, kekuasaan Sultan Agung diteruskan oleh putranya, Sultan Amangkurat I. Di era Sultan Amangkurat I inilah pengaruh kekuasaan Mataram mulai berkurang yang ditandai dengan semakin mengecilnya wilayah kekuasaan.

Blambangan, misalnya, yang pada masa Sultan Agung berhasil dikuasai, akhirnya lepas. Di Blambangan terjadi serbuan dari orang-orang Bali yang akhirnya membentuk kerajaan kecil yang berdiri sendiri, dengan rajanya yang juga menyebut dirinya susuhunan.

Usaha untuk menguasai wilayah Banten oleh Mataram pada masa Sultan Agung juga tidak dilanjutkan oleh putranya. Banten yang berada di sebelah Batavia di bawah kendali Belanda, tidak pernah mengakui kekuasaan Mataram.

Di luar Pulau Jawa, beberapa daerah yang selama Sultan Agung memberikan penghormatan, mulai menyatakan pembelotan. Raja Makassar, yang sejak 1635 bersekutu dengan Mataram, hendak diterima Sunan hanya sebagai seorang bawahan dari sebuah daerah yang ditaklukkan, meskipun Raja Makassar itu sendiri tidak pernah mengakui Mataram sebagai penguasa yang lebih tinggi.

H.J. De Graaf dalam bukunya berjudul “Disintegrasi Mataram : di Bawah Mangkurat I” yang dikutip BERITA88, mengisahkan bahwa hanya Palembang yang tetap setia hingga akhir mendukung langkah Kerajaan Mataram di bawah kekuasaan Sultan Amangkurat I. Alasan mengapa Palembang masih mendukung Mataram bisa jadi karena tradisi lama atau mungkin karena merasa terancam oleh musuh Mataram, yaitu Banten dan Jambi yang sedang berkembang pesat. Wilayah Jambi sendiri masih memberikan penghormatan dan kesetiaannya kepada Raja Mataram.

Tetapi tak lama kemudian muncul aliran yang kuat dalam kerajaan ini, khususnya di kalangan generasi muda, yang ingin memisahkan diri dari Jawa. Di Kalimantan pun situasinya serupa. Setelah 1660, tidak ada lagi jejak kekuasaan Mataram, sementara Makassar menghormati orang Jawa paling tidak sebagai sekutu.

Bahkan dari gambaran singkat ini, sudah terlihat bahwa terdapat kesenjangan antara kenyataan dan pengakuan tentang luasnya kekuasaan, yang dari tahun ke tahun semakin dalam dan lebar. Proses kehancuran kerajaan di Jawa dan daerah seberang ini perlu dipelajari dengan lebih teliti.

Keruntuhan Mataram ini menyebar dengan cepat dan dahsyat, disebabkan oleh kurangnya kekuatan sang raja. Seringkali ia melancarkan rencana perang dan berkali-kali mengancam akan melakukan tindakan militer yang keras, tetapi jarang atau tidak pernah terwujud dalam tindakan nyata.

Menariknya, ada laporan menarik dari utusan Belanda pada 16 Desember 1659, di mana salah satu penyebab kegagalan perang Mataram adalah karena sang raja enggan meninggalkan Istana Mataram. Di luar istana, Sultan Amangkurat I tidak pernah merasa aman dan ia juga tidak mau mempercayakan sebagian kekuatan tentaranya kepada pejabat mana pun, karena kelaliman dalam pemerintahannya membuatnya ditakuti dan dibenci oleh semua orang.