Mengapa Usia 40 Tahun Sangat Istimewa dalam Islam? Inilah Penjelasannya.
Mengapa Usia 40 Tahun Sangat Istimewa dalam Islam? Inilah Penjelasannya.
Dalam ajaran Islam, usia 40 tahun merupakan tahap krusial dalam perjalanan hidup seorang manusia. Pada usia ini, seseorang diharapkan lebih memusatkan perhatian pada ibadah. Usia 40 bukan lagi waktu yang tepat untuk terlalu sibuk dengan aktivitas duniawi seperti bermain media sosial, mengunggah foto, bersantai di kafe, menonton drama, mendengarkan musik, dan kegiatan sejenisnya.
Setiap Muslim yang memasuki usia 40 tahun sebaiknya mulai fokus menjalani hidup dengan memperbanyak ibadah, amal saleh, mencari ilmu, menjaga akhlak, mengendalikan hawa nafsu, dan meninggalkan ketamakan duniawi.
Ibrahim al-Nakha’i dalam bukunya Ath-Thabaqat al-Kubra mencatat bahwa para salaf berpendapat, jika seseorang mencapai usia 40 tahun dan tetap dalam kebiasaan tertentu, maka kebiasaan itu akan sulit berubah hingga akhir hayatnya.
Artinya, jika di usia 40 tahun seseorang belum menunjukkan minat terhadap agama, hal itu bisa menjadi pertanda buruk bagi akhir hayatnya di dunia. Usia ini merupakan masa di mana manusia telah mencapai puncak kehidupannya dalam hal fisik, intelektual, emosi, dan spiritual. Ia telah melewati masa muda dan memasuki masa dewasa yang sesungguhnya.
Seseorang yang telah mencapai usia 40 tahun hendaknya memperbarui taubat dan bersungguh-sungguh kembali kepada Allah, meninggalkan kebodohan masa muda, dan lebih berhati-hati. Ia harus melihat segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan iman, semakin meneguhkan tujuan hidup, menjadikan uban sebagai pengingat, dan memperbanyak rasa syukur.
Di usia 40 tahun, sebaiknya seseorang mulai meningkatkan minatnya terhadap agama, terutama jika semasa mudanya jauh dari agama. Mulailah menutup aurat dan sering mengikuti kajian agama.
Pada usia ini, tidak lagi banyak memikirkan masa depan duniawi, mengejar karir dan kekayaan, tetapi lebih banyak memikirkan nasib di akhirat kelak.
Imam Ibnul Jauzi berpendapat, siapa pun yang telah mencapai usia 40 tahun dan kebaikannya belum melebihi keburukannya, hendaknya bersiap-siap menghadapi neraka. Dengan demikian, jika pada usia ini masih senang melakukan dosa dan maksiat seperti meninggalkan shalat, berzina, membuka aurat, mabuk, dan sebagainya, maka akan semakin sulit untuk berubah.
Seseorang yang berusia 40 tahun juga sebaiknya mulai bersungguh-sungguh memperbaiki masa lalu dan memanfaatkan hari-hari yang tersisa dengan sebaik-baiknya, sebelum ajal menjemput. Jangan sampai menjadi penyesalan yang tiada guna.
Imam Malik dalam bukunya At-Tadzkiroh menjelaskan bahwa para ahli ilmu biasanya sibuk dengan urusan dunia dan berinteraksi dengan orang lain hingga usia 40 tahun. Setelah mencapai usia tersebut, mereka lebih banyak berkonsentrasi pada ibadah dan ilmu. Artinya, ada orang-orang yang pada awalnya sibuk dengan dunia, namun ketika mencapai usia 40 tahun, mereka beralih fokus pada ibadah.
Abdullah bin Dawud menyatakan bahwa para salaf, ketika mencapai usia 40 tahun, mulai melipat kasur, artinya mereka tidak lagi tidur sepanjang malam, melainkan mengisi malam dengan shalat, bertasbih, dan beristighfar, mengejar ketertinggalan di masa lalu dengan amal-amal yang lebih baik di masa mendatang.
Oleh karena itu, jika seseorang telah mencapai usia 40 tahun, hendaknya mulai sibuk dengan amal saleh, sebab waktu di dunia sudah tidak lama lagi. Perlu diingat, usia umat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam rata-rata singkat, hanya antara 60-70 tahun.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang mampu melampaui umur tersebut” (HR. Ibnu Majah).

Wallahu’alam.
