Agama

Perjumpaan Seorang Pria Nasrani dengan Dajjal di Sebuah Pulau Terpencil

Perjumpaan Seorang Pria Nasrani dengan Dajjal di Sebuah Pulau Terpencil

Seorang pria Nasrani bernama Tamim Ad-Dari, yang telah berbaiat masuk Islam pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mengisahkan pengalamannya bertemu dengan Dajjal di sebuah pulau kecil di antara gugusan pulau-pulau.

Kisah mengenai Dajjal ini diriwayatkan dalam Hadis Sunan Abu Dawud No 3767 dalam Bab peperangan besar. Seperti apakah cerita tersebut?

Dalam sebuah hadis, disebutkan bahwa Fatimah binti Qais berkata, “Pada suatu malam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunda salat Isya yang akhir, kemudian beliau keluar dan bersabda: ‘Sesungguhnya yang menghalangiku (untuk segera keluar) adalah kisah yang diceritakan Tamim Ad-Dari kepadaku tentang seorang laki-laki yang berada di sebuah pulau di antara gugusan pulau-pulau.’ (HR Abu Dawud)

Sebelum bertemu dengan Dajjal, Tamim Ad-Dari mengaku bertemu dengan Al-Jasasah, makhluk berbulu lebat. Imam Nawawi menjelaskan bahwa makhluk ini disebut Al-Jassasah karena ditugaskan untuk memata-matai dan mencari berbagai berita untuk disampaikan kepada Dajjal.

Tamim Ad-Dari berkata: “Saat itu tiba-tiba ada makhluk berambut panjang yang mengaku bernama Jasasah.” Tamim kemudian bertanya, “Siapa kamu?” Makhluk itu menjawab, “Aku adalah Jasasah. Pergilah ke istana itu.” Tamim melanjutkan, “Aku pun mendatanginya, dan di sana terdapat seorang laki-laki berambut panjang yang terikat dengan rantai. Tingginya menjulang antara langit dan bumi.”

“Aku kemudian bertanya: ‘Siapa kamu?’ Ia menjawab, ‘Aku adalah Dajjal.’ Apakah telah ada seorang Nabi buta huruf yang diutus?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Ia kembali bertanya, ‘Apakah orang-orang mentaatinya atau mengingkarinya?’ Aku menjawab, ‘Orang-orang mentaatinya.’ Ia berkata, ‘Itu lebih baik bagi mereka.’

Setelah selesai dari sholatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk sambil tersenyum, dan bersabda: ‘Hendaklah setiap orang tetap berada di tempat salatnya (duduk).’ Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: ‘Apakah kalian tahu, kenapa aku kumpulkan kalian di sini?’ Para sahabat menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’