Sejarah

Peristiwa Bubat: Niat Menikahkan Putri Raja Berakhir Konflik Antara Sunda dan Majapahit

SEMARANG – Peristiwa Bubat: Niat Menikahkan Putri Raja Berakhir Konflik Antara Sunda dan Majapahit

Kerajaan Sunda akhirnya mengunjungi Majapahit untuk mengantarkan putri raja menikahi Hayam Wuruk. Ajakan dari Gajah Mada menyebabkan keluarga calon mempelai wanita yang justru datang ke pihak calon mempelai pria. Rombongan Sunda ini juga diiringi oleh Maharaja Linggabuana Wisesa, istrinya, dan sejumlah pejabat tinggi istana.

Pada waktu yang sudah ditentukan, Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa bersama permaisuri dan beberapa bangsawan Sunda berangkat ke Majapahit untuk mengantar Dyah Pitaloka dan melangsungkan pesta pernikahan di ibu kota Majapahit.

Rombongan yang bertujuan menikahkan putri raja yang cantik ini membuat pasukan Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa yang ikut tidak banyak. Mereka menempuh perjalanan jauh dari Galuh menuju ibu kota Majapahit di Trowulan.

Ratusan rakyat mengantar sang putri beserta raja dan pengawal menuju pantai. Saat tiba di pantai, mereka menyaksikan laut berwarna merah darah yang melambangkan bahwa rombongan itu tidak akan kembali ke tanah asalnya. Namun pertanda tersebut diabaikan oleh Linggabuanawisesa dan rombongannya.

Berdasarkan beberapa sumber sejarah, pernikahan ini dimaksudkan untuk mempererat hubungan persaudaraan yang lama terputus antara Majapahit dan Sunda. Mengingat Dyah Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, dianggap sebagai keturunan Rakeyan Jayadarma atau Raja Sunda. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3.

Setelah rombongan Sunda tiba di Pesanggrahan Bubat, datanglah utusan Gajah Mada yang menyampaikan keinginan Gajah Mada agar Dyah Pitaloka Citraresmi diserahkan kepada Kerajaan Majapahit sebagai tanda takluknya Sunda terhadap Majapahit. Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa merasa harga dirinya terinjak-injak dengan tindakan Gajah Mada tersebut.