Berita

Macron Berupaya Mempengaruhi Pemilihan Paus Baru untuk Kandidat dari Prancis

Macron Berupaya Mempengaruhi Pemilihan Paus Baru untuk Kandidat dari Prancis

PARIS – Presiden Prancis Emmanuel Macron berusaha untuk mempengaruhi konklaf kepausan mendatang dengan tujuan mendukung kandidat Prancis menjadi Paus selanjutnya.

Berita ini diungkap oleh beberapa media konservatif di Italia.

Laporan tersebut muncul setelah Macron mengadakan pertemuan dengan beberapa kardinal elektor serta seorang pemimpin gerakan Katolik yang berpengaruh menjelang konklaf yang akan menentukan penerus Paus Fransiskus.

Macron makan siang dengan empat dari lima kardinal elektor keturunan Prancis, termasuk Jean-Marc Aveline, uskup agung Marseille, pada hari Sabtu lalu selama acara pemakaman Paus Fransiskus, yang meninggal pada 21 April.

Pada hari Jumat sebelumnya, presiden Prancis juga menghadiri makan malam di sebuah restoran di Roma bersama Andrea Riccardi, kepala Komunitas Sant’Egidio, sebuah asosiasi Katolik berpengaruh dengan lebih dari 70.000 anggota awam di 74 negara, yang diduga memiliki pengaruh pada beberapa anggota konklaf mendatang.

Menurut harian Italia Il Tempo, pemimpin Prancis tersebut bertanya kepada para kardinal tentang cara-cara untuk membangun konsensus di sekitar Aveline.

Media tersebut menggambarkan kardinal itu, yang dianggap sebagai kandidat potensial untuk menjadi Paus selanjutnya, sebagai seorang “ultra-Eropa, anti-kedaulatan” dan “salah satu anggota konklaf yang paling liberal”.

Surat kabar itu juga menggambarkan pertemuan-pertemuan tersebut sebagai contoh “intervensionisme yang layak bagi Raja Matahari yang baru,” merujuk kepada Raja Prancis abad ke-17 Louis XIV, yang pernah berusaha mempengaruhi pemilihan Paus melalui kardinal Prancis.

Koran Italia lainnya, La Verita, secara langsung menuduh Macron berusaha memilih Paus berikutnya.

Istana Elysee belum memberikan komentar resmi mengenai agenda dari kedua pertemuan tersebut. Sementara itu, Komunitas Sant’Egidio membantah tuduhan tersebut, menyampaikan kepada Le Monde pada hari Kamis bahwa, “Macron berusaha memahami prosesnya, bukan mempengaruhinya.”