Mempercepat Transformasi SDM di Indonesia
Mempercepat Transformasi SDM di Indonesia
Dr. Jazuli Juwaini, MA
Ketua Umum IKADIM, Anggota DPR, dan Dosen Pascasarjana Ilmu Manajemen.
Menjelang akhir Mei 2025, Ikatan Doktor Ilmu Manajemen (IKADIM) mengadakan sebuah diskusi serta peluncuran buku yang diberi judul “Transformasi Manajemen SDM di Era Digital: Inovasi, Teknologi, dan Strategi Masa Depan” di Jakarta. Buku ini digagas oleh 32 Profesor dan Doktor Ilmu Manajemen, berangkat dari kegelisahan sekaligus harapan terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam menghadapi era teknologi dan bonus demografi.
Sebagai organisasi yang menaungi para ilmuwan dan praktisi manajemen SDM, IKADIM merasa terpanggil untuk mengambil langkah nyata dengan kesadaran penuh bahwa transformasi SDM digital memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak. Maka lahirlah buku yang memiliki lebih dari 600 halaman ini, yang tidak hanya membahas teori, tetapi juga praktik dan model implementasi yang dapat menjadi acuan strategis bagi pemerintah pusat dan daerah, organisasi sosial, dunia usaha, hingga lembaga pendidikan.
Disrupsi Teknologi dan Berbagai Tanggapannya
Dunia saat ini tengah memasuki era teknologi yang sangat revolusioner. Kemajuan pesat dalam kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), big data, dan otomasi telah mengganggu hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Perubahan ini bukan hanya mempercepat proses produksi, informasi, dan komunikasi, tetapi juga mengubah definisi hubungan antara manusia dan teknologi itu sendiri.
Realitanya, disrupsi teknologi ini tidak diterima dengan kesiapan yang sama di berbagai belahan dunia. Banyak negara, terutama yang sedang berkembang, malah terjebak sebagai pasar teknologi, bukannya sebagai penemu dan pencipta teknologi. Kondisi ini diperburuk oleh lemahnya keterampilan SDM di negara-negara tersebut dalam menyesuaikan diri dengan teknologi.
Akibatnya, ketidaksiapan menghadapi arus teknologi ini menimbulkan ketergantungan yang tinggi negara berkembang terhadap negara maju di satu sisi dan munculnya berbagai masalah sosial ekonomi di sisi lainnya. Namun, kita juga melihat negara-negara yang memiliki visi dan strategi yang jelas mampu memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai peluang.
Contohnya, Jepang, yang tidak hanya mengikuti paradigma Industri 4.0 yang berfokus pada efisiensi dan otomatisasi, tetapi mengembangkan paradigma sendiri yaitu Society 5.0 yang menekankan harmoni antara manusia dan teknologi. Society 5.0 berfokus pada pemanfaatan teknologi digital untuk menyelesaikan tantangan sosial dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ini menunjukkan bagaimana sebuah negara dapat menundukkan teknologi untuk kepentingan manusia, bukan sebaliknya.
Perbedaan pendekatan ini menggambarkan bagaimana kesiapan dan visi suatu negara dalam menghadapi transformasi teknologi sangat menentukan peran yang akan mereka mainkan—apakah sebagai pelaku utama atau hanya sebagai pasar.
