Meski Memiliki Senjata Nuklir, Pakar Ini Jelaskan 3 Alasan Militer Pakistan Tak Berani Menghadapi Israel
Militer Pakistan dan Ketiadaan Tindakan Terhadap Israel
ISLAMABAD – Dengan medali di dada dan rudal di latar, mereka mengklaim sebagai pembela dunia Muslim, pelindung agama, dan penjaga bangsa. Mereka memimpin salah satu pasukan terbesar di dunia, menguasai senjata nuklir, dan memerintah negara yang disebut-sebut sebagai tempat perlindungan bagi kaum tertindas.
Namun, ketika Gaza menjadi kuburan—ketika ibu-ibu Palestina meratapi kain kafan berlumuran darah di tempat anak mereka seharusnya tidur—militer Pakistan tidak bergerak. Bahkan tidak ada suara protes selain pernyataan “keprihatinan yang mendalam”.
3 Alasan Militer Pakistan Tidak Melawan Israel
1. Korupsi di Militer Pakistan
Jawabannya tidak rumit. “Ia korup,” ujar Junaid S. Ahmad, pakar geopolitik Pakistan, menurut laporan Middle East Monitor.
Apa yang menghentikan militer terbesar keenam di dunia, yang dipersenjatai dengan senjata nuklir, untuk bertindak demi Palestina? “Singkatnya: Zionisme—bukan sebagai ideologi massa, tetapi Zionisme yang berpihak pada kepentingan asing dan pengecut, yang ada dalam benak elit militer dan politik Pakistan. Mereka bukanlah pembela ‘ummah’; mereka adalah penjaga kepentingan Amerika, penjaga kekaisaran yang patuh, berhiaskan kemunafikan,” ungkap Junaid S. Ahmad.
Baca Juga: Antisipasi Serangan Israel, Parlemen Iran Setujui Kenaikan Anggaran Militer
2. Bagian dari Imperialisme AS
Di balik slogan “pengekangan strategis” dan “stabilitas regional” terdapat keterlibatan diam-diam. Lembaga militer Pakistan—terutama para petingginya—telah lama terjerat dalam mesin imperialisme Amerika.
“Selama beberapa dekade, para perwira Pakistan dikirim ke akademi militer AS bukan hanya untuk belajar perang, tetapi untuk dijinakkan ke dalam sistem nilai kekaisaran: kesetiaan kepada Washington, penghormatan kepada Tel Aviv, dan penolakan terhadap perlawanan nyata terhadap hegemoni Barat. Mereka kembali dengan ijazah mengilap, ego membesar, dan kebutaan terhadap jeritan dari Gaza,” papar Junaid S. Ahmad.
3. Boneka Barat
Dan begitulah, lelucon berlanjut. Gaza terbakar. Para jenderal Pakistan berswafoto dengan diplomat Barat. Seorang hafiz merekomendasikan penjahat perang untuk Hadiah Nobel Perdamaian. “Anggaran militer membengkak, sementara keberanian moral menguap. Sistem ini berhasil—bagi mereka,” papar Junaid S. Ahmad.
Junaid S. Ahmad mengungkapkan bahwa hingga elite militer Pakistan melepaskan loyalitas kolonialnya dan berpihak pada yang tertindas, semua gelar mereka—Kepala Staf Angkatan Darat, Marsekal Lapangan, Komando Strategis—tidak akan berarti apa-apa. Gelar-gelar itu akan menjadi lambang para pengecut.
