Sejarah

Saat Pemuka Agama di Tumapel Tak Berani Melawan Keputusan Ken Arok Menikahi Ken Dedes

Kesuksesan Ken Arok di Tumapel

Setelah berhasil menghabisi Tunggul Ametung, Ken Arok, pendiri Kerajaan Singasari, menyusun rencana baru. Langkah pertama adalah menikahi Ken Dedes, janda cantik yang sebelumnya adalah istri Tunggul Ametung ketika menjadi akuwu di Tumapel.

Keputusan Ken Arok untuk menikahi Ken Dedes, setelah kematian suaminya, tidak ada yang berani menentangnya. Bahkan ayah Ken Dedes, Mpu Purwa, akhirnya menyetujui pernikahan tersebut.

Pada masa itu, Tumapel hanyalah daerah kekuasaan di bawah Kediri atau Daha. Saat itu, Kertajaya, juga dikenal sebagai Dandang Gendis, memerintah di Kerajaan Kediri. Ia sering kali berselisih dengan para pemuka agama Hindu Siwa dan Buddha.

Kertajaya menginginkan dirinya dipuja layaknya dewa atau Tuhan, yang menurut sejarawan Prof. Slamet Muljana dalam bukunya ‘Tafsir Sejarah Nagarakretagama’, memicu perlawanan dari pendeta terhadap penguasa Kediri tersebut.

Keinginan Kertajaya untuk disembah ditolak tegas oleh para pendeta, karena belum pernah ada preseden pendeta menyembah raja. Untuk menunjukkan kemampuannya, Kertajaya menancapkan tombaknya di tanah dan duduk di atasnya. Namun, para pendeta tetap tidak mau menuruti keinginannya.

Banyak dari mereka yang akhirnya meninggalkan Kediri dan mencari perlindungan di Tumapel, sehingga jumlah pengikut Ken Arok kian meningkat.

Keturunan dan kerabat dari orang-orang yang pernah berjasa kepada Ken Arok dipanggil ke Tumapel untuk mendapatkan imbalan dan diundang menetap di sana. Oleh para pengikutnya, Ken Arok diangkat sebagai raja dan mengambil gelar Rajasa Sang Amurwabhumi. Sejak saat itu, Ken Arok tidak lagi tunduk kepada Raja Kertajaya di Kediri.