Ekonomi

Pelemahan Dolar AS: Ancaman bagi Bank Sentral Asia?

Pelemahan Dolar AS: Ancaman bagi Bank Sentral Asia?

JAKARTA – Pekan ini, Dolar Baru Taiwan menarik perhatian setelah mengalami penguatan lebih dari 5% terhadap dolar AS (USD) sebelum bank sentral melakukan intervensi untuk menahan arus masuk yang dinilai ‘berlebihan’.

Pergerakan Dolar Baru Taiwan ini mungkin adalah yang paling mencolok pekan ini, meskipun dolar AS juga mengalami pelemahan terhadap beberapa mata uang lainnya, termasuk ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan rupiah Indonesia.

Otoritas Moneter Hong Kong, seperti halnya bank sentral lainnya, baru-baru ini harus menjual dolar Hong Kong untuk menjaga nilai tukarnya terhadap dolar AS. Selama bertahun-tahun, beberapa negara Asia menghadapi tantangan dari dolar AS yang terlalu kuat, dan mereka menyatakan bahwa hal tersebut meningkatkan inflasi.

Penguatan dolar sebelumnya menyebabkan biaya impor seperti makanan dan bahan bakar meningkat. Sekarang, meskipun negara-negara tersebut menikmati pelemahan dolar, dampaknya tampaknya memiliki efek negatif bagi beberapa pihak.

Pada awal pekan ini, Gubernur Bank Sentral Taiwan, Yang Chin-long, menyatakan bahwa para pembuat kebijakan melakukan intervensi di pasar untuk mengurangi aliran dana ‘berlebihan’, meskipun tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai tindakan yang diambil.

Pernyataan ini muncul setelah lonjakan tajam Dolar Baru Taiwan dalam dua hari mencapai 9% terhadap dolar AS. Kepala bank sentral Taiwan juga menyangkal bahwa nilai tukar mata uang merupakan bagian dari negosiasi perdagangan dengan AS.

“Volatilitas nilai tukar asing menjadi tantangan bagi pembuat kebijakan moneter,” kata Direktur dan ekonom utama di konsultan Asia Decoded, Priyanka Kishore, yang dikutip oleh BERITA88.

Para pembuat kebijakan moneter mungkin tidak terlalu memusingkan arah pergerakan mata uang, tetapi mereka tetap menginginkan agar perubahan tersebut berlangsung stabil.

“Meningkatnya volatilitas, jika bertahan dalam jangka waktu lama, dapat menimbulkan ketidakpastian dan memiliki dampak finansial serta ekonomi yang signifikan,” tambah Kishore.