Berita

Pemecatan Pejabat Kerajaan Singasari oleh Raja Kertanagara Menyulut Ketidakpuasan Publik

Pemecatan Pejabat Kerajaan Singasari oleh Raja Kertanagara Menyulut Ketidakpuasan Publik

SEMARANG – Di masa pemerintahan Kertanagara sebagai Raja Singasari, terjadi perombakan besar-besaran dalam jajaran pejabat kerajaan. Sejumlah pejabat senior yang berkuasa sejak era Raja Wisnuwardhana, ayah Kertanagara, diberhentikan dari jabatannya. Mereka diberhentikan karena perbedaan pandangan dalam kebijakan dan politik dengan Kertanagara.

Salah satu nama yang terdampak adalah Mpu Raganata. Ketika Kertanagara pertama kali naik tahta, Mpu Raganata menjabat sebagai Mahamenteri, sebuah posisi yang setara dengan perdana menteri atau wakil presiden. Raganata sering mengkritik kebijakan Kertanagara, yang dikenal dengan sikapnya yang tegas.

Raja Kertanagara, yang memiliki sifat sombong dan percaya diri dengan kekuatan serta kekuasaannya (ahangkara), menolak keras pendapat dan keberatan Mpu Raganata. Reaksi Raja saat mendengar ucapan Mpu Raganata adalah kekecewaan dan kemarahan, seolah diselimuti oleh kejahatan.

“Dengan cepat Mpu Raganata diberhentikan dari jabatannya dan digantikan oleh Mahisa Anengah Panji Angragani,” demikian dilaporkan BERITA88, Selasa (13/5/2025) berdasarkan buku “Tafsir Sejarah Nagarakretagama” oleh sejarawan Prof. Slamet Muljana.

Nama Raganata bahkan tidak lagi tercantum dalam piagam Penampihan, yang dikeluarkan pada bulan Kartika tahun 1191 (Oktober-November 1269) oleh Kertanagara. Dalam Kidung Harsawijaya pupuh 1/28b sampai 30a, dijelaskan bahwa Prabu Kertanagara menurunkan Mpu Raganata dari posisi patih amangkubhumi menjadi ramadhyaksa di Tumapel.

Arya Wiraraja juga mengalami penurunan jabatan dari demung menjadi adipati di Madura Timur. Ia merasa tidak puas dengan pemerintahan Raja Kertanagara. Dikatakan bahwa ketidakpuasan terhadap negara menjadi semakin meningkat. Arya Wiraraja kemudian memprovokasi Jayakatwang untuk memberontak dan akhirnya membunuh Kertanagara karena dendamnya.

Tumenggung Wirakreti juga mengalami penurunan jabatan dari tumenggung menjadi mantri angabhaya, atau menteri pembantu. Pujangga Santasemereti memilih meninggalkan pura untuk bertapa di hutan. Pupuh 1/82a menggambarkan bahwa penurunan jabatan Wiraraja dari demung menjadi adipati sangat melukai hati dan menimbulkan kemarahan.

Dari percakapan antara Wirondaya dengan Raja Jayakatwang, dalam pupuh 2/16a-16b, digambarkan dengan jelas bahwa sejak pemecatan para wreddha mantri dan pengangkatan para yuwa mantri (menteri muda), rakyat merasa tidak puas dengan sikap Sang Prabu Kertanagara.