Perekonomian China Menghadapi Krisis Terbesar dalam Dua Dekade
Perekonomian China Menghadapi Krisis Terbesar dalam Dua Dekade
JAKARTA – Kondisi ekonomi China saat ini berada dalam gejolak besar, sebagaimana diungkapkan dalam laporan terbaru dari Bank Sentral China (People’s Bank of China). Selama ini, Beijing sering menampilkan citra stabil dan kuat, namun temuan tersebut menunjukkan adanya delapan masalah krusial yang saling berhubungan dan berpotensi merusak struktur ekonomi dan sosial negara tersebut.
Mengutip dari laporan terbaru, krisis ini meliputi deflasi, keruntuhan sektor properti, utang pemerintah daerah, lemahnya konsumsi, risiko sistem keuangan, penurunan ekspor, peningkatan pengangguran, hingga arus keluar modal.
Indeks harga konsumen (CPI) di China mengalami penurunan sebesar 0,1% secara tahunan, sementara indeks harga produsen (PPI) turun 2,3%, menunjukkan adanya deflasi yang berkelanjutan. Bank sentral mengakui adanya kelemahan permintaan dan menyerukan pemulihan harga—sebuah pengakuan langka dari Partai Komunis China (CCP).
Deflasi mengurangi margin keuntungan, menekan upah, dan membuat konsumen menunda belanja dengan harapan harga akan semakin turun. Jika tidak cepat diatasi, China berisiko mengalami stagnasi seperti Jepang, di mana deflasi berkepanjangan menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Kontribusi sektor properti terhadap PDB yang sebelumnya mencapai 30% kini menurun drastis, dengan investasi turun 9,9%. Kredit bank sentral untuk proyek perumahan dinilai tidak mencukupi, memperburuk krisis. Nilai properti di kota-kota besar merosot tajam—villa di Beijing yang sebelumnya dijual 20–30 juta Yuan (sekitar Rp4,4–6,6 miliar) kini sulit dijual di harga 3–4 juta Yuan (sekitar Rp660–880 juta).
Efek domino pun terjadi: pendapatan pemerintah daerah menyusut, kredit macet perbankan meningkat, pemutusan hubungan kerja meluas, dan permintaan bahan bangunan serta furnitur menurun drastis.
Fenomena ‘Lying Flat’
Pendanaan melalui obligasi pemerintah melonjak ke 3,9 triliun Yuan, naik 180% dibanding tahun sebelumnya. Di sisi lain, pendapatan negara justru berkurang 1,1% dan pengeluaran meningkat 4,2%, menambah beban fiskal.
