politik

Presiden Bulgaria Ungkap Keraguan atas Kemenangan Ukraina dalam Konflik dengan Rusia

Presiden Bulgaria Ungkap Keraguan atas Kemenangan Ukraina dalam Konflik dengan Rusia

SOFIA – Presiden Bulgaria, Rumen Radev, menilai kemenangan Ukraina dalam perang melawan Rusia sebagai hal yang tidak mungkin. Sebagai pemimpin dari negara anggota NATO, dia juga mempertanyakan alasan Uni Eropa yang memperpanjang konflik antara Kyiv dan Moskow dengan terus memasok senjata ke Ukraina.

Menurut Radev, jalan bagi Kyiv untuk memenangkan perang melawan Rusia telah runtuh. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah unggahan di Facebook pada hari Jumat, bertepatan dengan perayaan Hari Kemenangan Rusia di Moskow yang memperingati 80 tahun kemenangan Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II.

Radev menggambarkan perang Rusia-Ukraina sebagai “tragedi zaman kita”, di mana beberapa dekade setelah Perang Dunia II, perselisihan internasional di Eropa kembali diselesaikan melalui cara militer.

“Eropa tidak memiliki visi untuk mengakhiri [perang Rusia-Ukraina] dan membangun perdamaian, tetapi terus berinvestasi dalam tujuan yang menurut saya sudah pasti gagal,” tulis sang pemimpin Bulgaria.

Dia menambahkan bahwa menyalurkan lebih banyak senjata ke Ukraina tidak akan mempercepat datangnya perdamaian, menyebutnya sebagai “harapan utopis” yang justru memicu lebih banyak korban, kehancuran, dan kehilangan wilayah Ukraina setiap harinya.

Radev kemudian mempertanyakan tujuan Uni Eropa dalam memperpanjang perang Rusia-Ukraina.

“Apakah Eropa takut akan kembalinya perdamaian? Karena kembalinya perdamaian juga berarti mengembalikan perhatian publik pada krisis yang membara di negara dan masyarakat kita,” katanya, sambil menekankan bahwa Eropa harus memetik pelajaran dari Perang Dunia II, meninggalkan pendekatan militeristik dan lebih fokus pada solusi diplomatik.

“Eropa harus ingat bahwa persatuan dan kemakmuran dapat terwujud berkat upaya bersama untuk menghilangkan persaingan, kebencian, dan konflik yang menyebabkan Perang Dunia Kedua,” katanya, seperti dikutip dari BERITA88. Radev menentang pengiriman bantuan militer ke Kyiv dan merupakan salah satu dari sedikit pemimpin Uni Eropa yang menentang sikap garis keras Brussels terhadap Moskow.