Internasional

Greta Thunberg: Aktivis Pro-Palestina yang Ditahan Israel Setelah Pernah Diejek Trump dan Putin

Greta Thunberg: Aktivis Pro-Palestina yang Ditahan Israel Setelah Pernah Diejek Trump dan Putin

LONDON – Israel menghentikan sebuah kapal bantuan yang menuju Gaza, di mana Greta Thunberg dan aktivis terkenal lainnya berada, lalu menahan mereka dan membawa mereka ke Israel. Freedom Flotilla Coalition (FFC) melaporkan bahwa militer Israel telah ‘menyerang’ dan ‘menaiki secara ilegal’ kapal ‘Madleen’, yang berusaha mengirimkan bantuan ke Gaza. Wilayah ini telah mengalami konflik selama lebih dari 600 hari, dan blokade Israel selama 11 minggu terhadap semua bantuan telah membuat 2,1 juta penduduknya semakin terjerat dalam krisis pangan.

Aktivis lingkungan Thunberg dan Rima Hassan, anggota Parlemen Eropa dari Prancis, termasuk di antara mereka yang berada di kapal ‘Madleen’. FFC sebelumnya menyatakan bahwa kapal tersebut telah ‘diserang di perairan internasional’, dalam sebuah unggahan di Telegram.

‘Quadcopter mengelilingi kapal, menyemprotnya dengan zat seperti cat putih. Komunikasi terputus, dan suara-suara mengganggu diputar di radio,’ ungkap FFC. Sebuah video yang diunggah oleh kementerian luar negeri Israel tampaknya menunjukkan seorang petugas Angkatan Laut mengirim pesan radio ke kapal tersebut yang menyatakan ‘zona maritim di lepas pantai Gaza ditutup.’

Greta Thunberg: Aktivis Pro-Palestina yang Ditahan Israel

1. Aktivis Asal Swedia

Berdasarkan laporan dari BBC, Thunberg lahir di Stockholm, ibu kota Swedia, pada tahun 2003. Ibunya, Malena Ernman, adalah penyanyi opera, sementara ayahnya, Svante Thunberg, adalah seorang aktor.

Thunberg pertama kali mengetahui tentang perubahan iklim ketika berusia delapan tahun. Pada usia 11 atau 12 tahun, ia mulai mengalami depresi, menurut ayahnya, Svante. ‘Ia berhenti bicara… ia berhenti sekolah,’ ujarnya. Sekitar waktu yang sama, ia didiagnosis dengan sindrom Asperger, suatu bentuk autisme.

Pada musim panas 2018, di usia 15 tahun, Thunberg mengadakan ‘Mogok Sekolah untuk Iklim’ pertama di luar gedung parlemen Swedia. Aksi protes tersebut mendapat perhatian luas, dan ratusan ribu anak muda di seluruh dunia bergabung dalam aksi mogok Fridays For Future yang dipeloporinya.