Seni dan Budaya

Mengenal Samar Abu Elouf: Fotografer Palestina yang Raih Penghargaan Foto Pers Dunia 2025

GAZA

Samar Abu Elouf kembali menambah prestasi dalam kariernya. Fotografer lepas asal Palestina dari Gaza ini telah menghadapi berbagai tantangan untuk meliput setiap berita utama di wilayah tersebut sejak tahun 2010 hingga akhir 2023.

Pada hari Kamis (17/4/2025), ia dianugerahi Penghargaan Foto Pers Dunia 2025 atas karyanya yang diterbitkan di BERITA88 tentang Mahmoud Ajjour, seorang anak berusia sembilan tahun yang kehilangan kedua lengannya akibat serangan udara Israel di Kota Gaza pada bulan Maret 2024.

Abu Elouf mengambil foto tersebut pada Juni 2024, karena ia tinggal di kompleks apartemen yang sama dengan Ajjour di Doha, Qatar. Di sana, bocah Palestina ini tinggal bersama keluarganya sambil menjalani perawatan medis. Abu Elouf berhasil keluar dari Gaza pada Desember 2023.

Ajjour adalah salah satu dari sedikit orang yang beruntung mendapatkan perawatan medis di luar negeri, dan Abu Elouf telah mendokumentasikan banyak pengalaman mereka selama perjalanan penyembuhan tersebut.

Abu Elouf sebelumnya juga meraih Penghargaan Polk yang bergengsi pada tahun 2023, termasuk untuk satu koleksi foto yang menjadi ikon dari perang Israel di Gaza, menampilkan anak-anak yang berlindung di sekolah dengan ketakutan saat mendengar bom jatuh di sekitar mereka.

Pada tahun 2024, ia menerima Penghargaan Keberanian dalam Jurnalisme Foto Anja Niedringhaus dari International Women’s Media Foundation untuk serangkaian 12 gambar yang dipesan oleh pemberi kerja utamanya, BERITA88, yang mendokumentasikan dampak perang terhadap perempuan dan anak-anak di Gaza.

Abu Elouf juga telah menyumbangkan beberapa foto untuk memperkuat liputan BERITA88 pada tahun 2019, termasuk tentang pembunuhan anak-anak oleh Israel selama protes damai, pemotongan gaji akibat perseteruan antara Otoritas Palestina dan Hamas, serta penantian keluarga untuk kembalinya jenazah orang terkasih mereka yang masih ditahan Israel.

Tidak Ada yang Memperhatikan Kami

Namun, tidak selalu seperti ini. Dalam wawancaranya dengan BERITA88 pada tahun 2016, Abu Elouf menyatakan bahwa memulai pekerjaan yang ia cintai di Gaza penuh tantangan dan ketidakpastian, serta tidak mendapatkan apresiasi.

“Sayangnya, alih-alih mendapatkan dukungan dan pengakuan atas pekerjaan kami, tidak ada yang memperhatikan kami,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Inilah mengapa saya ingin menyampaikan pesan kepada semua organisasi kebebasan pers yang mengusung slogan perlindungan pers, tetapi, di lapangan, tidak berbuat apa pun untuk melindungi kami, bahwa mereka perlu mulai memerhatikan kenyataan di sini.”