Mengenal Seif al-Din Muslat: Warga AS yang Tewas Dianiaya Pemukim Israel di Tepi Barat
Mengenal Seif al-Din Muslat: Warga AS yang Tewas Dianiaya Pemukim Israel di Tepi Barat
Pemukim tersebut menyerang dan menyebabkan kematian Seif al-Din Muslat di kota Sinjil, di utara Ramallah, pada hari Jumat.
Siapa Seif al-Din Muslat? Warga AS yang Tewas Dianiaya Pemukim Israel di Tepi Barat
1. Dianiaya Hingga Tewas
Keluarga Muslat, yang berasal dari Tampa, Florida, menyampaikan kepada BERITA88 bahwa dia tewas akibat penganiayaan oleh pemukim Israel.
Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri menyatakan kepada Reuters, “Kami telah menerima laporan tentang kematian seorang warga AS di Tepi Barat,” namun pejabat ini menolak memberikan komentar lebih lanjut demi menjaga privasi keluarga dan orang-orang terdekat korban.
2. Dibunuh Saat Mengunjungi Kampung Halaman
Muslat berada dalam perjalanan dari rumahnya di Florida untuk mengunjungi keluarga di Palestina, menurut sepupunya, Fatmah Muhammad, melalui sebuah unggahan di media sosial.
Insiden ini juga menewaskan warga Palestina lainnya, yang diidentifikasi oleh Kementerian Kesehatan sebagai Mohammed Shalabi, akibat tembakan dari pemukim selama serangan tersebut.
Menurut laporan dari Al Jazeera, kelompok-kelompok pembela hak asasi manusia telah mencatat berbagai insiden di mana pemukim Israel di Tepi Barat merusak permukiman dan kota-kota Palestina, membakar rumah dan kendaraan dalam tindakan yang kadang-kadang digambarkan sebagai pogrom.
Militer Israel sering kali memberikan perlindungan kepada pemukim selama serangan mereka dan telah menembak warga Palestina yang mencoba melawan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi hak asasi manusia internasional menganggap permukiman Israel di Tepi Barat sebagai pelanggaran hukum internasional, melihatnya sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk menggusur warga Palestina.
3. Kekerasan oleh Pemukim Yahudi Terhadap Warga Palestina
Meskipun beberapa negara Barat seperti Prancis dan Australia telah menjatuhkan sanksi terhadap pemukim yang melakukan kekerasan, serangan tetap meningkat sejak konflik Israel di Gaza yang pecah pada Oktober 2023.
